Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

November 25, 2008

Petaka Lereng Lawu – Bab X

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 2:34 am
Tags: ,

 

 

BAB X

 

 

Riham menggerak gerakkan tangannya dengan cepat. Ia berusaha keras untuk menghindari tangan raksasa yang ingin mencengkeram wajahnya sambil berteriak teriak histeris.

 

“ Tidaaak….tidaakkk…..pergi kauu….enyaaaaah…..!!! jangan ganggu aku!! Ya Allaaaahh…”

 

Riham berteriak sepeti kesetanan. Matanya terpejam, badannya menggigil hebat. Perasaannya bicara bahwa dia tak akan selamat setelah melihat budenya dibawa pergi oleh mahluk hitam berbulu lebat yang kini mengancam jiwanya itu.

 

“ Astaghfirullaaaahh…..aaaaaaaaa…tidaaaaak….pergiiiii….!!!!! ”

 

Kini tangan kirinya telah tertangkap oleh mahluk itu. Riham bertambah panik. Kakinya berusaha menendang mahluk yang kini telah berhasil menangkapnya, tapi kakinya hanya menendang udara hampa. Walau begitu, usahanya tidak berhenti begitu saja. Kakinya tetap saja menendang nendang. Dan perasaannya mengatakan ia berhasil menendang mahluk itu. Teriakannya bertambah keras. Lalu dia mendengar suara seseorang berteriak keras.

 

“ Mas…!!…mas….!!! “

 

Riham tak menghiraukan. Dia tetap saja berteriak teriak. Tangan kanannya memukul tangan yang menangkapnya dengan keras.

 

“ Maass!!!….Hoeii….sadar heee..!! Bangun!! “

 

 PLAAKK!!! Sebuah tamparan hebat mendarat di sisi wajah Riham. Tamparan itu begitu keras hingga membuat pipinya merasa amat panas. Gelagapan Riham berusaha membuka matanya. Rasa panas dipipinya memaksa Riham untuk memusatkan pikiran. Samar samar ia melihat banyak orang mengerubutinya.

 

“ huh….astaghfirullah……..apa ini…..dimana aku…..”

 

Kedua tanganya dipegangi oleh seseorang. Wajah Riham menunjukkan kepanikan yang amat hebat. Mukanya bergetar. Matanya bergerak cepat mengelilingi sekitar tempat ia duduk. Jantungnya berdegup keras berusaha untuk menstabilkan jiwanya.

 

Suasana tidak lagi gelap. Terang sekali malah. Dilihatnya ia masih duduk di bangku bis yang ia naiki tadi pagi.

 

“ Sadar mas, bangun “ orang yang memegangi Riham berkata. Riham berusaha memusatkan pandangannya

“ heh…dimana aku?….”

“ bangun mas, sudah sampai Ngawi “ ujar orang itu

“ Ngawi…?? “ Riham menggumam. Dipaksanya pikirannya untuk berjalan, lambat sekali

“ ya mas, sudah sampai terminal “ ujar orang itu. Lamat lamat ia mulai mengingat orang itu adalah kondektur bis yang ditumpanginya.

“ Terminal ya….Ngawi…”

 

Otak Riham berputar keras. Matanya masih jelalatan memandang ke sekitar. Dilihatnya penumpang bis berdiri dengan pandangan mata tertuju ke padanya. Beberapa orag malah sudah berdiri mengelilinya. Tangan sang kondektur masih mencengkeram tangan kiri Riham. Lalu perlahan ia melepaskan setelah melihat Riham mulai sadar.

 

“ ya mas, Terminal Ngawi , masnya kan turun sini? “

“ iya…ya… “

“ Lagian, mimpi siang siang, udah ngigau , eh…pake nendang nendang lagi…. “

“ ………………. “ Riham yang telah sadar sepenuhnya terdiam sambil menundukkan kepala

“ kalo mau turun cepet mas, bisnya mau berangkat lagi “ ujar sang kondektur bersungut sungut

“ Iya…iya, maaf “

 

Riham gelagapan meminta maaf. Riham melihat pandangan mata para penumpang tajam, tak lepas darinya. Riham merasa amat malu dengan kejadian itu. bergegas ia mengambil barang bawaannya yang ia taruh di atas bagasi dan secepatnya turun dari bis.

 

Suasana terminal nampak seperti biasa. Terang dan ramai. Riham melirik arlojinya. Jam menunjukkan pukul 12.37 menit. Suatu perjalanan yang wajar pikirnya. Ia masih bingung apa yang telah dialaminya barusan. Ia menggeleng gelengkan kepala. Lalu Riham mendatangi salah satu kios untuk membeli sebuah air mineral dan mencari tempat duduk yang terlihat kosong.

 

“ apa yang terjadi tadi? Gila….” Gumam Riham sambil meneguk air minuman ada di genggamannya

“ mimpi yang aneh…hampir seperti nyata…siang siang begini….”

 

Otak Riham terus berjalan menimbang nimbang apa yang telah terjadi. Hampir selama hidupnya, terutama setelah menginjak dewasa, ia belum pernah mengalami mimpi buruk. Apalagi siang hari bolong seperti saat ini. Itu saja sudah sangat aneh. Dan saat ini mimpi itu seperti benar benar menyita kesadaran dan kestabilan jiwanya. Riham masih menggigil hebat. Berkali kali ia meneguk air mineral yang baru saja ia beli itu. Jantungnya masih berdegub keras.

 

Setelah beberapa lama ia termenung, sampailah ia pada satu keputusa. Diambilnya hape dari saku jaketnya dan ia mulai memencet sebarisan nomor. Tak lama ia menunggu, terdengar suara dari orang yang ia hubungi.

 

“ halo ham “

“ ya halo, Bakar? “

“ ya ini Bakar “

“ Kar, aku mau cerita sesuatu, penting “

 

Lalu Riham menceritakan segala sesuatu yang ia alami sewaktu dalam perjalanan di bis tadi pada rekannya di seberang. Riham menceritakan panjang lebar tentang mimpi yang ia alami. Tampaknya Bakar dengan cermat mendengarkan cerita itu.

 

“ hmm….sebentar ham, satu menit saja, jangan kau tutup dulu..”

“ Ok Kar “

 

Sesaat tak terdengar suara dari telepon seberang. Hening. Tak berapa lama terdengar sahutan dari seberang

 

“ Halo…ham, masih disitu? “

“ ya…”

“ kamu tenang saja, kamu teruskan saja sampai Njamus. Aku rasa sepertinya ada yang ndak beres “

“ aku juga merasa begitu dari tadi, Kar “ sela Riham

“ Tapi kamu tenang saja “ sahut Bakar

“ Tenang bagaimana? Jantungku masih saja berdegup kencang begini “

“ Halaah…istighfar Ham, percayalah, Tidak akan ada apa apa yang menimpamu disana “

“…..hhh….” terdengar Riham menghela nafas berat

“ yang penting sekarang adalah kamu temani pakde kamu. Beliau yang lebih perlu mendapat perhatian “

“…he’eh…terus…..?”

“ Masalah ini aku coba pikirkan dari sini. Tapi kamu harus lebih waspada, ok? Banyak banyak dzikir, sekalian doakan budemu agar tenang disisi-Nya. “

“ ya “ jawab RIham singkat.

“ Kalau ada apa apa cepat kamu telpon aku, segera aku menyusulmu “

“ Kamu masih ingat kan jalan kesini? Aku rasa aku akan butuh bantuanmu“

“ masih lah, Gunung Lawu ndak pindah tempat, kan? Hahahaha “ Bakar mencoba berkelakar

“ hahaha…ok kalau begitu, aku berangkat sekarang agar tidak terlalu sore sampai Njamus “

“ ok, hati hati, jangan lupa pesanku “

“ ok, thanks “

 

Riham menutup sambungan hapenya. Setelah hatinya menjadi tenang, ia lalu bergegas mencari angkutan yang berupa bis kecil menuju Desa Ngrambe yang banyak mangkal di bagian luar terminal itu. Setelah berbincang dengan Bakar, Riham mulai mendapatkan ketenangan jiwanya kembali, sepenuhnya.

 

Bakar adalah sahabat Riham sejak ia masih di sekolah menengah. Sebenarnya Bakar masih saudara jauh Riham dari fihak ayah. Sejak pertama bergaul dengan Bakar, Riham sudah menyadari bahwa Bakar mempunya beberapa kelebihan dari teman teman sebayanya yang lain. Apalagi Bakar juga senang sekali merantau hingga berminggu minggu sejak lulus dari sekolah menengah. Bakar amat suka sekali dengan hal hal tentang pengolahan batin. Dari Bakar lah pengetahuan Riham tentang agama dan kebatinan dia peroleh.

 

Tanpa sepengetahuan Riham, Bakar segera menuju kamar mandi untuk bersuci setelah sambungan telepon dari Riham tertutup. Segera setelah bersuci, Bakar menuju bilik kecil di rumahnya yang dipergunakan oleh keluarganya sebagai musholla dan menjalankan beberapa raka’at sunnah, dan menunaikan Sholat Dhuhur sesudahnya, lalu disambung dengan beberapa raka’at sunnah yang lainnya. Lalu ia bersila dan terpekur menghadap kiblat. Nampak keningnya berkerut dan mulutnya tak berhenti bergerak. Tiba tiba ia menghentikan mulutnya. Wajahnya kian ditekuk kebawah. Kerutan keningnya bertambah dalam.

 

“..HHhhhhh……”

 

Bakar menghembuskan nafas yang dalam. Matanya ia buka. Lalu kedua telapak tangannya diusapkan ke mukanya secara bersamaan. Ia menggeleng gelengkan kepalanya.

 

“ ada ada saja….” Bakar bergumam sendiri

“ apa lebih baik aku kesana sekarang? “ Bakar sejenak terdiam. Sepertinya ia sedang berpikir keras

“ lebih baik aku tunggu kabar darinya saja, aku yakin dia masih bisa menghadapi sendiri, kecuali………”

 

 

Iklan

November 21, 2008

Petaka Lereng Lawu – BAB IX

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 9:55 am
Tags: ,

 

 

BAB IX

 

 

Sore itu langit tak seberapa terang. Mendung tampak menggelayut di langit Desa Njamus menutupi matahari yang dengan gagahnya memancarkan sinar dan panasnya ke muka bumi. Beberapa orang nampak keluar dari sebuah musholla kecil di tepi desa. Satu persatu keluar sembari mencari alas kaki masing masing dan beranjak pulang. Seorang laki laki muda nampak dengan tekun terpekur menghadap ke arah mimbar musholla. Mulutnya bergerak dengan irama konstan mengucapkan dzikir kepada Ilahi. Nampak kekhusukan di raut wajahnya. Kerutan kerutan halus muncul di wajahnya yang tampan. Walaupun satu persatu orang yang telah selesai menunaikan ibadah Sholat Ashar meninggalkan tempat yang kecil namun rapi itu tak membuat dia bergegas berdiri dan menyelesaikan dzikirnya.

 

Imam sholat yang sedari tadi juga masih ditempatnya, disamping mimbar, telah selesai dengan doanya. Dia membalikkan badan dengan hanya menggeser duduknya berhadapan dengan pemuda itu. Sesaat terlihat dia memperhatikan pemuda itu dengan pandangan menghiba, namun segera tergantikan dengan gelengan kepala. Akhirnya si pemuda juga selesai dengan doa doa khusuknya.

 

“ No, bagaimana keadaanmu sampai hari ini? “ Ustadz Jamaluddin, sang imam, membuka bicara

“ baik pak ustadz “ jawab pemuda itu singkat

“ bagaimana juga dengan makanmu? Apakah tidak ada kesulitan? “

“ Alhamdulillah ndak ada pak, saya juga nyari nyari kerjaan di pasar. Bisa ngangkut bawaan orang atau menurunkan barang dari truk, cukup buat sekedar makan “

“ hmm….bagus kalau begitu, tidurmu juga nyenyak “

“ Alhamdulillah pak “

“ hmm..hmm..baguslah. walaupun hanya tikar dan kamar gudang dibelakang musholla ini, kamu masih bisa mensukurinya, aku ndak bisa bantu apa apa lagi, No “ ujar Ustadz Jamal

“ semua saya rasa sudah cukup, pak ustadz, sudah banyak bantuan bapak, biar saya seperti ini dulu sampai semuanya berhasil, jangan banyak yang tahu siapa saya, biar ndak banyak berita tesebar di masyarakat “

“ baik kalau itu mau kamu, saya cuma memegang amanah saja, apa yang sudah kamu peroleh selama ini? Aku ndak seberapa banyak mau mendengarkan slentingan slentingan, jadi aku ndak seberapa ngerti, yang aku tahu cuma ibumu telah tiada sejak kau pergi dari sini “ Ustadz jamal mengiyakan sembari bertanya kemnali pada Pandono.

“ belum banyak pak, saya masih mau memantapkan diri untuk menemuinya, saya hanya menjaga amanah keluarga saya, bukan untuk hawa nafsu saya dengan harta harta duniawi, kalaupun ikhtiar saya akhirnya tidak berhasil, saya akan serahkan semua pada Allah, yang penting saya sudah berusaha semampu saya

“ sedangkan kabar sebab sebab meninggalnya ibu, saya belum berani memastikan sebelum bertemu dengannya, memang banyak beredar isu isu, tapi saya belum mau untuk mempercayainya sebelum saya bertemu langsung dengan beliau “ jawab Pandono gamblang.

“ dia memang orang yang tertutup, dari dulu setahu saya ndak banyak yang mengenalnya secara mendalam, hubungannya hanya dengan pegawai pegawainya dan perangkat desa ini. Itupun hanya kalau perlu dokumentasi dokumentasi penting dia memanggil lurah ketempatnya, jarang sekali dia datang ke kampung atau ke kantor kelurahan “ kata Ustadz Jamal.

 

Pak Ustadz Jamal terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu yang penting. Pandono pun terdiam. Dia tidak ingin menanyakan apa yang difikirkan oleh Ustadz Jamal apabila Ustadz Jamal tidak ingin memberitahukannya. Pandono hanya menunggu sambil kepalanya tertunduk.

“ yang penting…” sesaat Ustadz Jamal melanjutkan bicaranya “ apabila kamu sedang tidak ada kegiatan, kamu perdalam agama kamu, lebih dalam lagi, kamu kuatkan imanmu menghadapi semua hal yang akan terjadi nanti, jangan sampai kamu tebakar nafsu dendam, amarah, lakukanlah semua itu dengan dasar iman kepada Allah. Apabila telah sampai rizqi dari-Nya kepadamu, semua tak akan bisa menghalangi, kekuatan apapun baik yang kasar maupun yang halus. Percaya kepada-Nya, laahaula walaa quwatta illa billaah….percaya itu ” panjang lebar Ustadz Jamal memberi nasehat pada Pandono.

“ baik Pak Ustadz, pesan bapak akan saya ingat, semoga tidak akan terjadi apa apa nanti, saya mohon doa restu pak Ustadz “

“ apabila semua didasari dengan kebajikan, jangankan aku yang hanya mahluk ini, Allah pun akan merestuimu, banyak banyaklah istighfar, minta petunjuk kepada-Nya, bagaimana nanti kamu menghadapi semua ini “

“ baik pak “ tak bosannya Pandono mendengarkan nasihat nasihat Ustadz Jamal

“ ya sudah kalau begitu, aku mau kembali ke rumah, kamu jaga musholla ini baik baik, aku masih belum mendapat ganti semenjak Maman penunggu musholla ini pergi ke kota “

“ saya jaga sebaik baiknya pak “

“ ayo, aku pulang dulu, assalamu’alaikum “ ujar pak ustadz

“ monggo, wa’alaikum salam “ jawab Pandono

 

Lalu ustadz Jamal berdiri dan berjalan ke arah pintu masuk musholla. Pandono mengikuti di belakang beliau. Setelah ustadz Jamal keluar pagar musholla, Pandono beranjak menuju tempat menyimpan perlengkapan rumah tangga untuk kembali membersihkan area lingkungan musholla dan mempersiapkan musholla untuk dipakai sholat berjamaah Maghrib nanti.

 

Pandono duduk bersila di teras musholla setelah selesai dengan pekerjaannya. Dia terdiam. Kepalanya menunduk kebawah, terkadang dia menggeleng gelengkan kepalanya menandakan bahwa banyak sekali yang ia pikirkan saat itu. Waktu terus berjalan lambat, hingga seseorang datang menepuk bahunya.

 

“ Mas, sudah waktunya adzan, salonnya sudah siap? “

“ o, sampun pakde, monggo panjenegan adzan (silahkan anda mulai adzan) “ seru Pandono kaget.

 

Lalu terdengarlah kumandang adzan Maghrib menggema dari musholla kecil itu. Hari mulai gelap. Beberapa orang nampak berjalan pelan menuju musholla untuk sholat berjamaah.

 

 

November 17, 2008

Petaka Lereng Lawu – BAB VIII

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 2:07 am
Tags: ,

 

 

 

BAB VIII

 

“ Mas, bangun mas, Ngawi terakhir, mas,…mas…bangun “

 

Sebentuk suara melayang layang di benak Riham. Antara sadar dan tidak Riham tergagap merasa badannya digoyang goyang oleh seseorang. Matanya terkejap sambil melihat sekeliling. Bis sudah dalam kondisi kosong. Seluruh penumpang kelihatannya sudah turun semua dan  hanya nampak wajah kondektur bis didepannya. Riham terkejut melihat wajah kondektur yang nampak tidak ramah itu menatap tajam dengan sorot mata yang aneh kearah wajahnya.

 

“ Mas wes tutuk Ngawi iki, ora mudhun kene? (mas, sudah sampai Ngawi, tidak turun sini) seru kondektur bis tak ramah.

“ Heh?…….iyo, iyo….sik…(iya, iya…sebentar..) “ Riham tergagap gagap menanggapi seruan kondektur.

 

Masih dalam keadaan belum sadar benar, Riham bangkit dari bangkunya dengan enggan. Ada perasaan aneh dibenaknya melihat suasana disekelilingnya. Kondektur yang membangunkannya sama sekali tidak bergerak di tempatnya berdiri dan hanya menatap amat tajam kepadanya. Seluruh bangku bis kosong sama sekali. Terlihat sopir bis dibangku sopir dan kenek bis disebelah pintu depan tidak bergerak sama sekali, hanya diam di tempat masing masing. Yang tidak habis pikir, suasana diluar terlihat sudah remang remang, tanda hari sudah beranjak malam.  Dan terminal bis yang setahu Riham sangat ramai orang berlalu lalang,  hari ini terlihat sangat sepi. Diluar hanya nampak seorang dua orang yang berjalan lambat dan selalu menatap Riham dari luar jendela kaca bis saat melewati dirinya.

 

“ jam berapa ini mas? “ Tanya Riham pada kondektur yang masih tetap ditempatnya.

ra nggowo (tidak bawa) “ jawab kondektur singkat

 

Dengan perasaan yang aneh dan separuh jengkel, Riham bergegas mengambil tasnya yang ditaruh di bagasi di atas bangku dan secepatnya turun bis melewati kenek bis yang dengan aneh tetap berdiri menatap kaca depan bis. Sejenak setelah riham turun, tanpa bicara apapun kenek menutup pin tub is dan bispun berjalan menjauh dengan lambat. Riham hanya menatap heran. Disekelilingnya tak terlihat bis atau kendaraan lain yang parkir di area terminal. Hari nampak gelap. Benak Riham mulai berjalan.

 

“ Aneh, apa bis tadi mogok dijalan? Apa aku tidur begitu pulas sampai aku tak sadar kalau bis ini mogok tadi? Harusnya aku sampai sini jam satu siang tadi….”

 

Riham melihat arlojinya. Jarum menunjukkan angka 12.56. digoyang goyangkan arlojinya. Nampaknya jamnya mati. Riham melihat hape-nya. Jam menunjukkan pukul 13.08 dan tidak nampak indicator sinyal.

 

“ gila, semua jamku mati, sudah sore banget, apa ada ojek nanti ke Njamus…..mana hape ndak ada sinyalnya lagi…” Riham mengguman dalam hati. Mulutnya mengeluarkan suara decakan.

“ gelap sekali….mas..mas…”

 

Riham melihat seseorang berjalan didepannya dan memanggilnya untuk menanyakan angkutan menuju desa Ngrambe jam berapa datangnya.  Seakan tidak mendengar seruan Riham, orang yang berjalan didepannya itu tetap saja berjalan lambat tanpa mengindahkan Riham yang berteriak agak keras memanggilnya. Riham mempercepat jalannya untuk menyusul orang itu. Entah darimana, kabut yang lumayan tebal berhembus di depan. Orang itu berjalan menuju kearah gumpalan kabut dan menghilang dibaliknya. Riham terus saja mengejar orang itu. Perlahan kabut aneh tadi menyusut meninggalkan gambaran area parkir kendaraan pengantar yang nampak kosong. Tidak nampak seorang atau kendaraan yang parkir satupun di area itu. Sunyi, tanpa suara. Riham hanya terbengong menatap ke area tersebut.

 

“ Kemana orang itu tadi? “

 

Riham menengok ke belakang. Kabut tadi datang lagi. Kini hampir menyelimuti dirinya.

Dengan meraba raba, Riham mencari jalan keluar.

 

“ tebal sekali kabut ini, dingin sekali rasanya….darimana ya kabut ini datangnya? “

 

Riham berjalan perlahan lahan sambil mengacungkan tangannya kedepan. Matanya mencari cari jalan untuk menuju trotoar di samping area parkir.

 

“ …..haam……..”

 

Sebentuk suara terdengar lamat lamat ditelinga Riham. Sejenak Riham berhenti didalam selimut kabut. Telinganya berusaha meyaklnkan apa yang baru saja dia dengar. Sunyi. Tak terdengar suara apapun, walaupun hanya jangkrik atau dengingan nyamuk. Semua tetap sunyi. Kembali Riham berjalan mengendap endap.

 

“…..Rihaaam…..haaam…..”

 

Suara itu terdengar lagi. Sayup sayup namun jelas mengiang ditelinganya. Mata Riham membelalak. Jantungnya berdegup keras. Pikirannya berjalan sangat cepat tanpa kompromi. Benaknya bertanya Tanya, apa yang baru saja didengarnya. Kepala Riham menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba mencari asal dari suara tadi. Tapi kembali suara tadi tak terdengar. Riham tidak berani melanjutkan jalannya. Hanya matanya yang melirik kiri kanan. Badannya terasa kaku.

 

“…le…Rihaaam…..kemari …le…

 

Kabut berangsur menyurut meniysakan selimut tipis di depan pandangan Riham. Muncul sesosok wanita dari balik kabut tipis. Semilir angin yang mengusir ketebalan kabut tadi tampak mengibar ngibarkan baju wanita itu.rambutnya terurai panjang. Wajahnya tak terlihat jelas dikegelapan cuaca. Sosoknya hanya mengingatkan Riham pada seseorang. Ya…seseorang yang dia kasihi. Bude. Suara itu yang membuat badan Riham terasa kaku. Jelas sekali itu suara budenya.

 

“ Bude…..” seru Riham pelan “ sedang apa bude disini…..” pikiran Riham berjalan lambat karena tertegun.

“…sini le…..Rihaaaam…..” nampak bayangan itu melambai lambaikan tangannya.

 

Riham bergidik hebat. Tengkuknya meremang. Badannya berangsur dapat digerakkan kembali. Dengan perlahan Riham melangkahkan kaki kearah bayangan wanita itu. Walaupun hatinya menolak, tetapi langkah kaki Riham memaksa untuk berjalan menuju bayangan budenya.

 

“ bude…aku datang bude…tunggu aku….”

 

Mulut Riham menceracau tak jelas. Riham kini mempercepat langkah kakinya. Setengah berlari Riham berusaha menghampiri sosok yang terlihat seperti siluet yang melambai lambaikan tangan kepadanya. Namun sosok itu tak bertambah dekat. Kabut tipis yang melayang layang disekitar itu seakan akan membawa siluet wanita itu menjauh. Riham tak perduli. Dia mempercepat langkah kakinya. Kini dia benar benar berlari. Mulutnya tetap saja berteriak memanggil budenya.

 

Tak lama tiba tiba bayangan itu telah bertambah dekat dengan Riham. Riham menghentikan larinya. Riham berjalan pelan menuju bude yang kini hanya diam berdiri didepannya.

 

“ bude…aku rindu…maafkan aku bude…” mulut Riham menceracau.

 

Bude Darno mengangkat tangan kanannya dan membuka telapak tangannya kearah Riham.

 

“ Riham…..tolong……tolong bude…..” Bude Darno menggumam.

 

Riham semakin mendekat kearah bude. Tangan Riham hampir menjangkau tangan Bude Darno.  Mata Riham terhenti ke sebuah bayangan hitam di belakang bude yang tingginya hampir dua kali lipat tinggi budenya. Sesaat Riham berhenti berjalan. Lalu seakan menyadari situasi, dengan cepat Riham berusaha menggayuh tangan budenya. Tetapi, dia kurang cepat. Sesosok tangan berukuran raksasa berwarna hitam kelam mencengkeram muka Bude Darno dan menarik bude menjauh kebelakang meninggalkan suara teriakan melengking dari Bude Darno

 

“…aaaaaaaaaaaaaaaa………………………………..”

 

Riham terkejut hingga tersungkur kedepan. Lututnya terasa lemas dan hanya menatap bayangan budenya dicengkeram dan tertarik menjauh sambil tangan kanan bude mengacung kedepan seakan meminta Riham untuk menolongnya.

 

“ Budeeee….Budeee…….Tidaaaaaakkkk…………..” Riham berteriak histeris. Tangannya mengacung acung kedepan ingin menggapai tangan budenya.

 

Kabut tebal kembali datang menutupi bayangan budenya sama sekali. Tak terlihat lagi jejak bude dan sosok raksasa yang mencengkeram budenya tadi. Riham tertunduk dan terisak. Ke dua tangannya menutupi wajahnya. Tiba tiba datang angin yang bertiup kencang sekali. Rambut gondrong Riham melambai lambai menutupi wajahnya. Lututnya masih tertancap di tanah. Kabut tebal tadi sontak menghilang. Riham berusaha melindungi matanya dari debu terminal yang berterbangan. Mendadak angin itu berhenti. Matanya berusaha fokus. Sesaat kemudian matanya membelalak. Adrenalinnya berpacu deras. Didepannya berdiri sosok raksasa menjulang tinggi. Tangannya besar hampir menjangkau lututnya. Badannya dipenuhi rambut hitam kelam yang tebal sekali. Riham berusaha mendongak untuk melihat wajah sosok tadi. Ketika dia sampai pada penghujung penglihatannya, tiba tiba lengan yang berukuran luar biasa besar itu terangkat. Riham yakin telapak tangan itu berusaha untuk menggapai wajahnya.

 

“ AAAAAAaaaaaaaa……………………….Tidaaaaakkkkkkkkkkkk………………” Otomatis Riham berteriak sembari berusaha melindungi wajahnya dengan kedua lengannya.

 

 

 

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.