Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

November 3, 2008

Petaka Lereng Lawu – Bab I

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 5:40 am
Tags: ,

 

 

 

 

 

 

Bab I

 

“ Ham…..Riham!! “

 

Seorang ibu paruh baya terlihat berjalan tergesa melintasi ruang keluarga sebuah rumah di pinggiran kota. Wajahnya tampak gusar. Kerutan tanda dimakan usia terlihat semakin jelas menghiasi raut sang empunya wajah. Dia menjelajahi setiap sudut rumah. Terlihat kecemasan yang hebat telah melanda perasaannya.

 

“ Rihaam!! Kamu dimana nak? “ teriaknya.

“ Yaa bu! “ seorang pemuda yang hanya berkain sarung keluar dari kamar mandi dan menjawab sambil menghanduki rambutnya yang panjang sebahu “ Ada apa pagi pagi kok teriak teriak, bu ? aku baru dari kamar mandi “ sahutnya.

“ Ham….budemu nak….Bude Darno….meninggal subuh tadi….”

 

Setelah memberi tahu Riham apa yang terjadi, sang ibu tak kuasa menahan emosinya. Tangisnya pecah. Ia jatuh bersimpuh dengan bersandarkan tembok rumah. Kedua telapak tangannya menutupi seluruh wajahnya. Riham yang sejenak terpukul mendengar berita itu, segera menghampiri ibunya yang tengah histeris.

 

“ Sudah bu, sabar. Sabar bu, ingat kesehatan ibu…….”

 

Mulutnya mencoba menenangkan hati ibunya walaupun saat mengucapkan kalimat itu tenggorokannya terasa tercekat. Tampak buliran air mata merebak di sekitar kelopak mata Riham. Ia berusaha menahan perasaan duka, tetapi berita mendadak itu terasa memaksa dadanya untuk berguncang dan memompa aliran emosi hingga ke pelupuk matanya.

 

“ Semua sudah kehendak Allah, kita tak bisa menghindarinya….. “ ujarnya (“ Seperti saat kita kehilangan Ayah…”) Riham melanjutkan dalam hatinya. Tak tertahankan kesedihan itu hingga Riham mengingat saat Ayahanda meninggalkannya tiga tahun lalu. (“ Belum genap seribu hari Ayah…Bude Darno…..Ya Allah…ampunkanlah dosaku…”) benak Riham terus berjalan. Airmata yang semula hanya menggenang akhirnya terjatuh juga dipipinya. Tangannya tetap merangkul pundak ibundanya yang terus menangis histeris.

 

“ Sudahlah bu….tak baik kita terus berduka, lebih baik kita mendoakan agar amalnya diterima Allah Yang Maha Kuasa. Tentu bude tak ingin kita seperti ini bila beliau melihat. Kita serahkan saja pada Allah “

 

Riham berusaha menenangkan hati ibundanya yang gundah gulana. Ia terus menasihati ibundanya hingga sang ibu menghentikan tangisnya. Sang ibu yang sepeninggal suaminya, ayahanda Riham, telah mengidap penyakit hati kronis yang tidak memperbolehkannya untuk berpikir berat dan kecapekan.

 

“ Ingat sakit ibu. Jangan sampai kambuh lagi bu…” lanjutnya

 

Perlahan sang ibu menghentikan tangisnya. Riham bangkit menuju meja makan dan menuangkan segelas air putih. Ia membawa gelas itu kearah ibunya dan menyodorkannya dengan lembut.

 

“ Ini bu, diminum dulu…….kapan berita itu ibu terima? “

“ Si Tono tetangga Pakde Darno meng-SMS ibu tadi. Ibu baru baca sepulang dari pasar. Ada miskol beberapa dari nomor Ngawi “ dengan sesenggukan ibu Riham menjelaskan.

“ Sakit apa bude..? “

“ Ibu ndak tahu nak…”

“ Ada kabar dimakamkan jam berapa ? “

“ Tidak ada…”

“ Baik, berapa nomor telepon mas Tono? Habis ini ku telepon dia  

“ Lihat di ha-pe ibu di meja kamar….”

 

Sang ibunda berdiri dan beranjak menuju meja makan. Ia menuangkan lagi segelas air putih dan meneguknya. Riham terlihat bergegas masuk ke kamar ibunya dan segera keluar menuju kamarnya sambil membawa sebuah ha-pe. Didalam kamar ia menuju sebuah meja kecil dimana ha-penya terlihat tersambung ke sebuah adaptor charger yang menempel di stopkontak dinding. Riham mengutak utik ha-pe ibunya. Ditujunya menu pembuka pesan pendek. Dilihatnya sebuah pesan terbaru yang memuat rangkaian nomor telepon pengirim. Lalu dia memijit beberapa tombol angka di ha-penya sendiri. Sesaat kemudian telepon tersambung.

 

“ Halo! ”

“ Ya halo, sopo iki ? “ sahut suara dari seberang.

“ Aku mas Ton. Riham, ponakane Bude Darno ? “

“ Oalah dik Riham. Iyo dik, bude sampeyan sedo mau subuh (budemu meninggal tadi subuh) “

Aku wes di kandani ibu mas, gerah opo ? (Aku sudah diberitahu ibu mas, sakit apa?) “

Ndadak iki dik. Pakde sampeyan pirsone pas bar sholat Subuh, wong wingi yo sehat  (mendadak dik, pakdemu tahunya setelah sholat Subuh, orang sebelumnya juga sehat sehat saja) “

“ Yo wis mas. Dimakamkan kapan ? “

“ Sebentar jam sembilan siang “

Dilut ngkas aku pe budal (sebentar lagi aku berangkat). tolong kabari pakde ya “

“ Yo dik. Nanti pakde Darno aku kabari “

“ Suwun yo mas kabarnya “

Podo-podo dik (sama-sama), “

 

Riham menutup teleponnya. Ia bergegas memakai bajunya dan segera keluar kamar.

 

Iklan

2 Komentar »

  1. Aku wes di dawuhi ibu mas, gerah opo ? (Aku sudah diberitahu ibu mas, sakit apa?)

    Nyuwun sewu, njih…
    mbok menawi ingkang leres makaten :
    Aku wis dikandani ibu, gerah opo? (untuk orang yang lebih muda, mungkin tidak dihaluskan bahasanya),

    dan setahu saya… didawuhi itu artinya disuruh…

    Nyuwun ngapunten menawi mboten dados kersanipun penggalih panjenengan

    Komentar oleh danisdad — November 5, 2008 @ 12:30 am | Balas

  2. Terima Kasih komentarnya
    dan juga koreksinya
    saya sebetulnya juga masih belajar belajar berbahasa jawa kulonan yang benar terutama yang kromo

    menurut yang saya pelajari, dawuh itu artinya berkata

    mungkin waktu saya menulis, persepsi saya tentang ibu yang berkata pada saya, ibu ndawuhi kulo,
    tapi waktu saya baca ulang, ternyata suatu kalmat pasif
    saya dikasih tahu ibu

    trima kasih koreksinya

    ====

    regards

    Komentar oleh harlockwords — November 5, 2008 @ 2:12 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: