Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

November 3, 2008

Petaka Lereng Lawu – Bab II

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 5:43 am
Tags: ,

 

 

Bab II

 

Jauh di Lereng Lawu, di ujung perkampungan Desa Njamus berbatasan dengan perkebunan teh yang amat luas, sebuah rumah kuno dengan ukuran yang amat besar berdiri dengan megah. Dilihat dari tampak depan bangunan itu, terlihat sisa kejayaan arsitek arsitek negara seberang laut yang pernah lama tinggal di bumi nusantara ini jauh bertahun lampau. Tembok dan gerbang yang berukiran khas daratan Eropa menghias pintu masuk kawasan rumah bergaya viktoria ini. Halaman yang luas tampak dihiasi dengan barisan semak semak yang tertata rapi dan juga terawat. Pohon pohon kamboja berukuran raksasa tersebar di sekeliling halaman. Dahan dahannya yang terpencar di segala penjuru penuh dengan daun dan membuat suasana di sekitar halam menjadi agak redup. Di teras depan, tampak pilar pilar raksasa menyambut tamu yang datang mengunjungi tuan rumah sebelum para tamu tersebut mencapai pintu utama rumah ini. Semua terkesan elegan sekaligus angker.

 

Tersebutlah Tuan Djojobroto, sang empunya rumah ini. Dia adalah pemilik lahan maha luas disekeliling lereng Lawu yang tertutup oleh pohon pohon teh yang dirawat oleh pembantu pembantunya. Djojobroto mewarisi semua lahan serta rumah megah peninggalan penjajah Belanda dari bapak istrinya, anak dari mandor kepercayaan Tuan Mellviz van Roullt, tuan tanah perwakilan kerajaan Belanda yang mengelola lahan luas disamping Gunung Lawu untuk ditanami teh yang hasilnya dikirim ke negeri Belanda. Ketika Jepang menyerang Nusantara yang diduduki Belanda pada perang dunia II tahun 1942, dengan cerdik si mandor melobi tentara Jepang untuk tidak merampas harta dan membunuh juragannya. Tuan Mellviz amat berterima kasih kepada kakek dari Djojobroto, sehingga, pada saat akhir perang dunia II, tanah sekaligus harta benda Tuan Mellviz yang selamat dari jarahan tentara Jepang, diwariskan kepada kakek dari istri Djojobroto. Istri Djojobroto meninggal hampir lima belas tahun lalu. Kini dia sendiri yang mengelola perkebunan luas itu.

 

Sore itu terlihat Tuan Djojobroto yang berpakaian kemeja putih model Jawa timuran dipadu dengan celana putih sedang berada di halaman tengah rumah megahnya. Bagaikan sebuah villa tempat para eksekutip menghabiskan weekend, halaman rumah itu dihiasi dengan kolam renang bergaya modern yang sangat kontras dengan bangunan utama. Dia duduk di sebuah kursi besi berukir di sebelah meja bundar yang berpayung besar ditengahnya. Di depannya terlihat tumpukan kertas-kertas laporan dan piring berisi kue serta secangkir kopi panas yang terlihat masih mengepulkan asap di sela sejuknya udara lereng Lawu ini. Wajah Tuan Djojo terlihat tidak enak dan serius. Dia sedang berhadapan dengan seseorang yang berumur agak lebih tua darinya. Dia adalah mandor pengelola dari kebun tehnya. Namanya Supeni, penduduk Desa Njamus yang dipercaya olehnya untuk mengawasi kebunnya.

 

“ Bagaimana Marmo ni ? “

“ Mati pak “

“ Sakit ? “

“ Tidak itu pak “ jawab Peni “ Sebelum dia mati, penduduk melihat dia ngebut masuk kampung pak, kayak orang kesurupan “

“ Hmm….terus…? “

“ Dia masuk kamar, dikunci dari dalam, terus mati “

“ Dokter Puskesmas bilang apa ? “ Tuan Djojo terus bertanya

“ Katanya ada yang menyumbat saluran nafasnya, gejalanya seperti keracunan pak, kalo dilihat dari posisi matinya, posisi tangannya seperti orang mules “

“ terus….nggak di otopsi sama RSUD Ngawi ? “

“ nggak boleh sama istrinya pak “

“ kenapa ? “

“ itu yang saya ndak ngerti, pokoknya istrinya nggak mau “

“ hmm…………” Djojo seperti memikirkan sesuatu

“ Kamu sudah ada kandidat yang menggantikan si Marmo ? aku minta yang lebih rajin, minimal serajin si Marmo, ni “ Tanya Tuan Djojo nyerocos dengan nada agak tinggi.

“ Sudah pak, saya ngambil anaknya si Kabul yang masih muda, dia baru saja nyelesaikan proyek di Bojonegoro. Sekarang lagi habis proyek. Dia nggak berniat balik kota lagi. “ jelas Peni lengkap

“ Kamu atur lah sebaik mungkin “

“ baik pak “ ujar Peni mantap “ pokoknya beres “

 

 

 

Iklan

1 Komentar »

  1. tung teng 😀

    Komentar oleh - F — November 6, 2008 @ 1:35 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: