Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

November 6, 2008

Petaka Lereng Lawu – Bab III

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 3:13 am
Tags: ,

 

 

Bab III

 

Riham keluar kamar dan menghampiri ibunya yang masih terpekur di sisi meja makan. Dia mengambil tempat di seberang ibunya yang duduk di sisi kiri meja.

 

“ Sudah bu, jangan terlalu banyak dipikir “ ujar Riham sambil mengambil gelas dan menuangkan air kedalamnya, “ Mas Tono sudah aku telpon bu, bude dimakamkan jam sembilan ini “

“ ….dia satu satunya keluargaku ham, sepeninggal ayahmu, ndak ada lagi tempat aku mengadu…sedangkan ibu ndak terlalu dekat dengan pakdemu……”

“ sudahlah bu, masih ada aku dan adik-adik, ibu jangan terlalu resah, biarkanlah aku yang menjadi tempat curahan hati ibu, aku akan siap selalu bila ibu perlukan “

 

Ibunya hanya mendesah tanpa menanggapi pernyataan Riham yang tulus. (“ tidak semudah itu… “) pikirnya . Perasaannya masih sangat kalut, pandangannya selalu kosong walaupun Riham yang sedang mengajak bicara tepat diseberang tempat duduknya. Riham tetap saja melanjutkan bicaranya. Walaupun apa yang terjadi, dia tahu benar hancurnya perasaan sang ibu. Dia maklum akan penderitaan sang ibu.

 

“ Aku berencana mau langsung berangkat ke Njamus bu, mungkin aku agak lama, sampai 7 harinya mungkin lebih, aku ingin menemani pakde, kasihan bu, pakde ndak ada siapa siapa lagi… “ lanjut Riham

“…Aku ikut…” tiba tiba ibunya menyahut sebelum Riham selesai bicara

“ Ndak usah bu, ibu sedang dalam kondisi yang ndak baik, lebih baik ibu kirim doa dari rumah saja, nanti pasti aku sampaikan ke pakde, pasti pakde akan memakluminya, percayalah ” ujar Riham meyakinkan

“ tapi le….” Ibunya kelihatannya akan membantah

“ sudahlah bu, wakilkan saja padaku, semua akan baik baik saja, ya bu…”

 

Ibu terdiam seribu bahasa. Dalam dadanya berkecamuk berbagai macam hal. Ingin rasanya ia ikut terbang menuju tempat kelahirannya untuk sekedar mengucapkan salam dan doa perpisahan kepada kakak tertuanya itu. Tetapi fisiknya berkata lain. Dengan usia sepertinya, untuk menahan serangan penyakitnya amatlah susah bila kondisinya sedang menurun. Apalagi didukung dengan suasana jiwa yang terguncang hebat seperti saat ini.

 

“ aku sangat menyayanginya…dia yang selalu ada pada saat aku tenggelam…” setelah sekian saat ibu melanjutkan

“ iya bu, aku juga sangat menyayangi beliau “

“ dia sangat mengharapkan momongan, yang tidak pernah datang, dia amat sangat menyayangimu ham…amat sangat…”

“ aku sangat tahu hal itu bu…”

 

Riham mengucapkan kalimat terakhir itu dengan mata berkaca kaca. Tenggorokannya kembali tercekat. Dia amat sangat sadar bahwa budenya memang bagaikan ibu kedua baginya. Bude Darno adalah kakak tertua ibunya dari dua bersaudara. Dikarenakan sesuatu hal dalam kandungannya, Bude Darno tidak dapat mempunyai anak. Pada saat kelahiran Riham, Bude Darno yang telah menikah 5 tahun sebelum ibu Riham melahirkan Riham, sering sekali ke Surabaya untuk menengok Riham, si sulung anak adiknya. Hampir sebulan empat kali Budenya mondar mandir Ngawi Surabaya hanya untuk ikut merasakan menimang Riham kecil. Dan saat Riham sekolah di TK, Bude Darno meminta kepada orang tua Riham untuk menyekolahkan Riham SD di Ngawi. Saat itu, Riham telah mempunyai 2 orang adik. Tanpa bisa menolak, orang tua Riham pun menyetujuinya. Sejak usia 7 tahun hingga lulus SD Riham tinggal dengan pakde dan budenya di desa. Teringat saat dia dibawah asuhan budenya.

 

                                             ========================================

  

Dengan tulus kakak dari ibunda Riham itu menjaga, merawat dan selalu menasihati dengan kasih sayang. Bahkan dengan kenakalan Riham yang bergaul dengan anak anak desa sebayanya itu, seringkali pulang dengan tubuuh luka luka, entah terjatuh, berkelahi atau apapun, budenya merawatnya sambil menitikkan air mata. Tidak pernah sedikitpun budenya itu memarahi Riham yang kabarnya pada saat masih kecil nakalnya amat luar biasa.

 

“ Tole…” begitu Bude Darno selalu memanggilnya “ kamu boleh bermain kemana saja sesuka hatimu, tapi bude ingin kamu berhati hati. Setiap kamu pulang, selalu ada saja tubuhmu yang terluka. Bude tahu laki laki harus kuat, lahir batin, tapi kehati hatian itu juga bentuk kejantanan, bukan bertindak sembrono. Kesembronoan tanda bahwa laki laki itu belum dewasa “

 

Bude Darno menasehati sambil tangannya yang lembut membasuh lutut Riham yang tampak memar penuh goresan. Riham yang terlihat meringis ketika cairan obat dioleskan ke lukanya, merasa kata kata budenya bagaikan analgesic yang dengan cepat menghilangkan rasa perih di lututnya.

 

“ Bude sedih kalau melihat kamu terluka setiap hari, hati bude terasa remuk, le, bude tahu kalau kamu sudah besar, sudah kelas 5, tapi bagi bude kamu tetap anak bude, bude sayang sekali sama kamu, le

 

Riham merasa kasih sayang bude dalam merawatnya secara total dan tulus itu membuat dia lupa akan rasa sakit, rasa pedih pada fisik dan psikisnya. Tak terasa Riham kecil yang bandel itu menitikkan air mata terbawa perasaan haru dan sayang pada budenya.

 

Melihat hal itu, Bude Darno tersenyum dan mengelus lembut rambut Riham. Lalu Bude Darno memeluk Riham penuh kasih sayang. Tak terasa Riham pun memeluk budenya dengan sesenggukan.

 

“ Janji, kamu akan lebih berhati hati selanjutnya, le

inggih, bude “ jawab Riham sesenggukan. Airmatanya meleleh di kedua pipinya.

 

                                 =========================================

 

 

 

Airmata yang meleleh itu menyadarkan lamunan Riham. Akhirnya dia beranjak kembali menuju kamar tidutnya untuk segera berbenah.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: