Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

November 10, 2008

Petaka Lereng Lawu – BAB V

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 7:19 am
Tags: , , , , , , , , ,

 

 

BAB V

 

 

Pasar itu tidak seberapa besar, Tetapi cukup banyak pedagang yang berjualan disitu. Hampir di setiap los yang disediakan ditempati oleh bedak bedak pedagang yang berjualan beraneka ragam. Cukup lengkap untuk memenuhi segala macam kebutuhan warga kampung. Pasar yang terletak diujung sebelah timur Desa Njamus itu seakan menjadi tempat bertemunya hampir seluruh desa. Begitu juga pagi itu.

                           

Warga kampong Njamus seakan berjanjian untuk berkumpul di pasar tersebut. Tidak hanya perempuan saja, tetapi banyak terlihat laki laki yang melakukan pekerjaan harian di tempat itu. Riuh rendah suara orang menawarkan dagangan, suara ibu ibu yang ngotot menawar barang yang diinginkan, suara angkutan ojek yang datang dan pergi silih berganti seakan menjadi sebuah simponi yang terbiasa didengar oleh semua pelaku kegiatan di tempat ini.

 

“ eeh…Mbak Menik…tumben kok siangan belanjanya, biasanya pagi pagi sudah kelar semua “

“ pagi Dik Yanti, iya, bangunnya kesiangan, tadi malam dirumah banyak orang ngumpul, jadi tidurnya sudah telat banget “

“ iya nih, tadi malem Mas Agus pulangnya dari rumah mbak malem banget, untung sorenya sudah kupeseni mbawa kunci sendiri, jadi aku nggak nungguin dia “ ujar Yanti

“ Yaah…biasa, namanya juga suami jadi carik, kadang kadang saja ketempatan rapat. Masak dirumah Ki Lurah terus, gantian, Mas tambah wortelnya seperempat saja “

“ kacang panjang  sa’ ons piro mas? (kacang panjang satu ons berapa mas) Kalau sudah gitu, kita yang perempuan ini jadi repot ya mbak? Nyiapin camilan sama minum, hihihi “

sewu limangatus (seribu lima ratus) “ sahut sang pedagang sambil melayani pembeli lainnya tanpa mengacuhkan si penanya yang nyambi ngobrol.

“ Iya tho, emang siapa lagi yang mau masuk dapur? Hihihi, tapi kemarin aku nggak bisa tidur duluan bukan karena aku banyak nyiapin buat tamu tamu, tapi aku takut tidur sendiri “ lanjut Menik

“ loh, kenapa mbak? Walah, larange, sewu oleh ra? (mahalnya, seribu boleh tidak?) “

“ itu lho, topik pembicaraan kemarin serem banget, piro kabeh mas? (berapa semua?), dik Yanti kan sudah denger tentang kabar kematian orang orang di kampong kita “

“ waduh, ra oleh mbak, ra nyucuk kulak’e, sewu rongatus seket wis (nggak boleh mbak, nggak sampe kulakannya, seribu dua ratus lima puluh deh), mbak’e semua dua belas ribu “ sahut sang pedagang tidak mau rugi

“ iya mbak, belum satu bulan sudah tiga yang meninggal, ada apa sih mbak? “

Menik melanjutkan “ kemarin malem orang orang serius membahas masalah ini, mereka ndak tahu pasti sebabnya, katanya masih simpang siur “

“ masih mau belanja apa lagi mbak? Aku sudah selesai nih “ sahut Yanti

“ sudah kok, tinggal daging di sebelah sana “

“ lanjutin mbak, tak temeni beli daging di Wak Jo “

 

Lalu keduanya beranjak menuju pintu masuk pasar, dimana diujung pasar terdapat sebuah bedak penjual daging. Sambil berjalan keduanya melanjutkan pembicaraan

 

“ kata orang orang yang rapat, ketiga tiganya matinya mendadak, ndak pake sakit, muntah darah lagi “

“ kenapa ya? Kok jadi ngeri aku “

“ takutnya ada wabah, Bu Dokter Johanna kemaren kan juga dateng, tapi kata beliau, ndak ada apa apa tuh, laporan dari laboratorium di Ngawi ndak menunjukkan adanya penyakit, semua normal “ lanjut Menik

“ loh kok tahu? “

“ contoh darah dari yang meninggal dikirim ke kota sama dokter, ya itu tadi, takutnya wabah, soalnya semua muntah darah, lagian matinya juga kehabisan nafas, kayak ada yang nêkêk (mencekik)“

 

Tak berapa lama mereka sampai di bedak penjual daging

 

“ iihhh….ngeri, terus, terus mbak….. “

“ Wak Jo, dagingipun seprapat (dagingnya seperempat), nah itu dia, orang orang bingung, ada apa dikampung kita ini, pinten Wak?

pitungewu jeng Carik (tujuh ribu jeng carik) “ ujar Wak Jo pedagang daging

“ malah ada banyak cerita yang beredar di kampong, ngeri ngeri dik, hii…”

“ aku pernah denger mbak, yang katanya penunggu……”

“ sudah ah dik, ndak usah dilanjutkan, takut aku “ Menik menyela perkataan Yanti

“ Iya lho jeng hati hati kalau bicara, bahaya, “ Wak Jo ikutan menimpali

“ iya mbak, katanya yang ngerasani (nggosip) bisa ikutan mati “

“ ini pagebluk jeng, goib, hati hati kalau bicara “ lanjut Wak Jo

“ alah Wak Jo ini, malah nakut nakuti “ sahut Yanti

“ sudah ah…pulang yuk, jadi serem “

“ ayuk “

 

Lalu keduanya beranjak pulang. Tak sedikitpun mereka berani melanjutkan topic pembicaraan tadi. Dalam hati mereka merasa kecut, setelah ingat beberapa kemungkinan tentang kematian warga Desa Njamus tersebut. Banyak yang yakin itu adalah suatu awal dari kematian berturut turut yang panjang yang disebabkan karena pagebluk (wabah penyakit yang disebabkan oleh goib) untuk tumbal.

 

Di seberang bedak Wak Jo agak ke barat sedikit, sebuah warung kopi tempat mangkal para sopir ojek dan kusir dokar (andong) nampak penuh sesak. Beberapa orang nampak asik dengan hidangan yang mereka pesan.

 

“ he, awakmu weruh ra, jarene wong wong seng mati wingi ditekek seng mbaurekso alas? (kamu tahu tidak, katanya yang mati kemaren dicekik penunggu hutan?)” salah satu sopir membuka bicara.

“ hush, jangan bicara hal itu, takut aku “

“ halaah…. Kamu itu penakut, ndol, masak percaya gituan bisa bunuh orang “ yang lain menimpali

“ lah buktinya, salah satu korban, si Toha, abis omong omong soal matinya Parni, ikutan nyusul, hayo, gimana? “ ujar Bendol

 “ masak sih? “

“ iya, waktu itu dia bilang bilang katanya arwah istri tuan Djojo balas dendam “

“ Nyi Lastri? “

“ iya “

“ yang hilang 15 tahun lalu? Yang katanya suaminya lihat dia nyemplung (nyebur) jurang jasad’e ra ketemu? “

“ betul, halah..lek tekok nrecel (kalau tanya bertubi tubi), dia balas dendam soalnya dituduh selingkuh, terus bunuh diri ” cerita Bendol

“ kamu kok tahu? “

“ ya iya, pas Toha cerita, aku ndenger di sebelahnya “

“ Lha.., katanya yang mbaurekso alas pinus itu “

“ ndak tahu Jo, apa Nyi Lastri jadi penunggu alas pinus? Orang jasadnya ndak ketemu “ Bendol balas nanya

“ Kalau aku denger, Ki Branggong minta tumbal, Merapi batuk batuk, biar Lawu ndak ikut batuk ” jelas Tarjo

“ ……….berarti……masih mau minta lagi….?? “ ujar Bendol sambil berpikir “..hii…udah ah…, wedi tenan aku, Jo (takut beneran aku) ….wes ah, kalu urusan sama Ki Branggong, whueediii tenan aku “ lanjutnya menggigil.

“ kowe iki ndol, jireh (penakut)! “

“ babah wes (biarin),…omong lainnya saja ”

 

Lalu suasana jadi senyap. Mereka menebak nebak apa yang sebenarnya terjadi di desa mereka. Yang pasti sudah tiga korban yang jatuh. Mereka berpikir, mau berapa lagi orang yang dikorbankan kalau memang penunggu gunung Lawu yang kabarnya masih kerabat penunggu Merapi meminta korban.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: