Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

November 12, 2008

Petaka Lereng Lawu – BAB VII

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 4:56 pm
Tags: ,

 

 

Bab VII

 

 

Tak berapa lama berselang mereka berdua sampai di tempat parkir Terminal Bungurasih, Terminal yang terletak di daerah Waru, yaitu perbatasan antara Kota Surabaya dan Sidoarjo. Mobil Dhaniar berjalan pelan untuk mencari tempat menaruh mobilnya dengan aman.

 

“ Sudah dik, ndak usah mengantar sampai dalam, kamu keburu ke kampus kan? Sampai sini saja “

“ Ndak apa apa mas, aku antar sampai bis “ jawab Dhaniar

“ Kenapa? Mau ditinggal lama ya? Takut kangen? “ goda Riham sambil tersenyum

“ Ah, kamu ini mas “ sahut Dhaniar sambil mencubit pinggang Riham. Mukanya tiba tiba memerah semu.

“ Ya udah deh, ayuk turun, ntar keburu kesorean aku sampai Njamus “

“ ayuk “

 

Setelah mobil mereka parkir dengan baik, mereka lalu turun menuju loket peron. Suasana terminal saat itu tidak terlalu ramai. Hanya terlihat beberapa sopir taksi dan beberapa orang sopir ojek yang mangkal disitu. Calon penumpang juga tidak seberapa ramai. Mungkin hari itu adalah jam kerja, jadi tidak banyak orang yang bepergian pulang ke rumah mereka yang di luar kota. Tidak seperti suasana terminal saat akhir minggu, dimana terminal sangat penuh sesak oleh para penumpang yang kebanyakn adalah orang luar Surabaya yang pulang berakhir minggu menemui keluarganya yang tinggal di luar kota. Beberapa orang sopir nampak menghampiri Riham dan Dhaniar menawarkan untuk mencarter kendaraan mereka yang dibalas dengan tolakan halus oleh Riham. Setelah Riham membayar karcis peron, mereka berdua bergegas menuju bis jurusan Ngawi-Solo-Jogja yang nampak berjajar di depan ruang tunggu.

 

“ sudah dik, mas langsung naik saja, kamu hati hati ya ke kampusnya, ingat, jangan ngebut “ kata Riham setelah mereka berdua sampai dibawah pintu masuk bis.

“ iya iya mas, mas juga, jangan lupa berdoa “ sahut Dhaniar “ kalau sudah selesai cepat pulang, ingat kerjaan dikantor “

“ ingat kerjaan apa ingat kamu? “ goda Riham lagi

“ mas ini, nggodain terus “

“ habis kamu, manis sekali kalau malu “

“ udah ah mas, cukup, didengar orang ini lho “ jawab Dhaniar. Kembalinya Dhaniar mencubit lengan Riham “ jangan lupa salam buat pakde, Dhaniar ndak bisa ikut, sidang proposal tiga hari lagi ndak bisa ditunda, mohon maaf buat pakde mas “

“ ya dik, nanti mas sampaikan ke pakde, sudah, sekarang kamu cepet kembali ke kampus, hati hati “

“ baik mas, Dhaniar balik ya, jangan lupa berdoa, assalamualaikum “

“ ya, a’alaikum sallam “

 

Dhaniar terlihat berjalan kembali menuju tempat parkir mobil. Riham sibuk menata barang bawaannya di bagasi, diatas tempat duduknya. Tak berapa lama kemudian bis pun berjalan menuju arah tujuan akhirnya, Jogja. Pada mulanya bis berjalan amat pelan. Dikarenakan hari biasa, penumpang bis itu tidak terlalu penuh, sehingga sopir bis menjalankan kendaraannya dengan sangat pelan untuk menunggu ada satu dua orang penumpang lagi yang ingin ikut bisnya. Hingga saat bis itu sampai di lampu merah Medaeng, sopir menghentikan kendaraannya. Tedengar teriakan keras kenek dan kondektur mengundang calon penumpang. Riham meruntuk dalam hati, mulutnya mengecak tak sadar. Riham merasa bis itu berhenti terlalu lama. Hawa didalam bis mulai pengap. Riham duduk dengan resah kegerahan. Dia sengaja memilih bis biasa untuk mengejar waktu karena bis patas dengan tempat yang nyaman menurutnya jalannya terlalu lamban, sedangkan Riham membutuhkan waktu yang cepat dengan menumpang bis biasa yang menurutnya sopirnya cenderung agak ugal ugalan biasa memacu laju bis dengan cepat.

 

“ aduh…” runtuk Riham sambil melihat arlojinya “ lama bener..”

 

Setelah berhenti sekitar lima belas menit, terasa bis mulai berjalan perlahan. Kenek yang sedang mengajak penumpang naik bisnya, melompat masuk sambil berpegangan pada gagang pintu bis. Setelah berjalan beberapa kilometer, baru terasa kecepatan bis dipacu dengan kencang. Disetiap melewati perempatan dan sekumpulan orang, terdengar teriakan kenek menyebut arah tujuan bisnya satu persatu, walaupun di kaca depan bis selalu tertulis tujuan bis itu. Akhirnya Riham pun bisa agak merasa nyaman walaupun sedikit. Dengan kecepatan seperti itu, udara dengan bebasnya keluar masuk bis melalui beberapa cendela kaca yang dibuka oleh penumpang lainnya.

 

“ bude…begitu cepat engkau kembali…maafkan Riham jarang mengunjungi bude…”

 

Tak terasa bathin Riham kembali teringat akan tujuannya kembali ke Njamus, tanah kelahiran ibundanya, dimana Riham sempat menghabiskan masa kecilnya. Hatinya berbisik lirih, pikirannya melayang merindukan sosok bude yang dia anggap sebagai ibu keduanya.

 

“ Riham sudah mengecewakan bude, padahal Riham juga rindu sekali denganmu…..maafkan Riham, bude ”

 

Bayangan bude terus mengajak angan angan Riham menari nari mengikuti alunan goyangan bis. Semua hal menyangkut kehidupan Riham bersama bude yang sangat mengasihinya seakan kembali ditarik oleh gaya gravitasi pikiran Riham. Semuanya kembali mengumpul dalam benak Riham saat itu. Satu persatu keluar menggoda Riham tenggelam dalam berbagai perasaan yang teraduk aduk. Kembali air matanya menetes. Cukup deras untuk mengundang seorang penumpang yang duduk dibangku samping Riham menoleh kepadanya. Tetapi orang itu diam saja, tak berusaha menegur Riham dan menanyakan apa yang terjadi. Riham seakan akan tersadar saat air mata itu melewati sisi wajahnya. Dia pun mengusapnya dan mencoba menahan gejolak yang ada dihatinya. Tetapi perasaan itu begitu hebatnya dan membawanya kembali ke beberapa saat setelah tiadanya sang ayahanda.

 

 

              =================================================================

 

 

“ Sudahlah le, semua sudah ada yang ngatur “

 

Bude Darno mengusap rambut Riham yang sedang menangis dipangkuannya. Ayahanda Riham yang pensiunan pegawai negeri itu meninggal pada umur 54 tahun. Tiada tanda tanda bahwa beliau mengidap sakit parah, dan tiba tiba Tuhan yang memiliki seluruh kehidupan manusia memanggilnya untuk kembali bersatu dengan-Nya. Ayah yang masih terlihat segar dan masih aktif dalam berbagai organisasi massa tiba tiba kembali pulang tanpa pesan apapun kepada Riham dan Ibunya setelah mengalami koma selama tiga hari di ICU sebuah rumah sakit negeri di Surabaya. Hal ini amatlah membuat shok RIham dan ibunya. Terlihat sang ibu menunduk disamping jenazah sang ayah yang telah selesai dimandikan menunggu untuk di-sholati oleh warga dan kerabat. Riham yang baru saja selesai memandikan sang ayah untuk terakhir kalinya terkulai dipangkuan sang bude sambil terisak.

 

“ kamu harus tegar, kamu masih harus menjaga ibu dan adik adik kamu, le, menangislah sampai kamu puas, tetapi kamu harus sadar, tugas kamu bertambah setelah ini, jadi kamu harus kuat, kamu mbarep (anak pertama) le, tulang punggung keluargamu “

 

Panjang lebar  bude Darno menasehati Riham. Tangan beliau tak henti mengelus rambut Riham. Pakde Darno hanya diam melihat kesedihan keponakannya itu. Beliau hanya duduk tercenung di pojok sambil mulutnya komat kamit melafadzkan Surah Yaasiin yang dihafalnya diluar kepala.

 

“ Bude tahu semua ini sangat mendadak sehingga memukulmu begitu keras, bude mahfum “ terdengar helaan nafas bude.

“ sabar ya le, ayah kamu biar tenang di alam seberang, relakanlah, beliau sudah bahagia menikmati bayaran atas amal amalnya selama hidup, ojo diaboti (jangan diberati), jalannya tersendat sendat, doakan saja, biar jalannya terang dan lancar “ kembali bude menasehati “ sekarang ambil buku Yaasiin, kamu baca disamping pakde, le “

 

Dengan masih sesenggukan, Riham beranjak mengambil salah satu buku Yaasiin di tumpukan lalu beringsut mendekati Pakde Darno dan perlahan membacanya. Walaupun Riham sebenarnya adalah anak yang mandiri dan tidak pernah sekalipun menyusahkan kedua orang tuanya, seumur hidupnya, disamping masa sekolah dasar, Riham belum pernah jauh dari sisi ayahandanya kecuali pada saat saat sekolah atau kampusnya mengadakan kegiatan diluar kota. Hal ini menambah rasa kehilangan Riham semakin kuat. Kesedihan itu begitu hebatnya. Tetapi, kehadiran bude dan pakdenya sedikit mengobati keremukan hatinya. Begitu pula kehadiran Dhaniar yang tak pernah lepas dari samping ibunda Riham. Mereka bersama sama membaca doa doa disamping jenazah ayah.

 

Sekembalinya dari makam, Riham kembali termenung dilanda kegalauan hati. Walaupun sanak saudara, kerabat, handai taulan dan tetangga Riham masih berkumpul di rumah Riham yang tidak terlalu besar itu tak membuat Riham tertarik untuk menemani para tamu mengobrol membicarakan ayah Riham. Melihat hal itu, Bude Darno mendekati Riham.

 

“ kamu ndak menemani tamu tamu le? Bude lihat banyak teman teman kamu belum pulang didepan “

“ ndak bude…..” jawab Riham singkat. Matanya yang merah masih menerawang jauh dengan kosong.

“ ndak baik bersedih terus, kasihan ayahmu, kamu masih punya bude dan pakde tempat kamu menuangkan segala kegalauan hati kamu, le “

Riham ngerti bude, tapi….”

“ ayahmu sudah cukup tugasnya di dunia, sudah selesai, adik adikmu juga sudah mandiri di luar negeri “ bude melanjutkan

“ coba kamu fikirkan, apalagi yang harus dikerjakan ayah? Ndak ada lagi tho? Kamu juga sudah merintis hidupmu dengan baik, memang, beliau belum sempat mnikahkan kamu, tapi beliau sudah melamar Dhaniar dan kalian sudah bertunangan kan, itu sudah cukup bagi beliau untuk pergi dengan tenang menghadap Allah “

Riham hanya terdiam mendengarkan nasihat budenya.

“ Bude sebagai orang tua hanya memberi wejangan saja, bude sangat sayang kepadamu, bude ndak pingin kamu bersedih terlalu sangat sehingga merusak jiwamu “

“ ayahmu disayang Allah le, coba kamu pikir bila ayahmu tidak disayang oleh Allah, ayah hidup dengan penyakit yang dideritanya, hidup berjalan dengan tongkat, lebih lebih berjalan harus di papah, makan harus disuapi, betapa menderitanya bagi beliau yang selama hidupnya sangat aktif bersosialisasi dengan sesama itu “

Seakan tersadar oleh perkataan budenya, hati Riham pun membenarkan perkataan bude. Diam diam dalam hatinya dia merasa bahwa memang inilah yang terbaik buat ayah yang amat sangat dia hormati dan kasihi. Ayah yang mempunyai hati setinggi gunung dada selebar lautan dan sifat sekeras batu karang itu tentu tak akan pernah mau bila hidupnya merasa tergantung oleh pertolongan orang. Riham pun merasa sedih bila membayangkan sang ayah, dimana tempat Riham berkaca, dalam kondisi yang menyedihkan seperti itu. Tak sampai hati rasanya. Walaupun hanya membayangkan saja Riham tak tega. (“Inilah yang terbaik buat ayah”) batinnya berkata bulat.

 

“ terima kasih bude, bude telah menyadarkan aku….” Riham menggait pergelangan tangan Bude Darno dan menciumnya hormat. Dalam hati dia berjanji untuk melanjutkan segala perkataan bude tadi untuk ibunya yang masih dirundung kesedihan yang amat sangat mendalam.

“ bude sayang sekali sama kamu le, bude ndak ingin kamu terjerumus dalam kesedihan yang tidak logis “

“ iya bude, Riham mengerti, Riham juga sayang sekali sama bude “

“ sudah, temani tamu tamu kamu, dari tadi Dhaniar terlihat sibuk sekali, dia ndak mau mengganggu kamu, walaupu dia sudah berusaha menyadarkanmu tadi, bude mau menemani  ibumu dikamar “

“ baik bude “

 

Lalu Riham keluar rumah untuk menemani teman teman sejawatnya, baik dari kantor, eks teman sekampus maupun teman teman karang taruna di kampungnya. Sedari tadi Dhaniarlah yang menemani mereka.

 

 

           ===================================================================

 

 

Ingatan itu membayangi Riham diperjalanannya. Mungkin ini juga yang terbaik buat budenya untuk kembali menemui Sang Khalik yang sebenarnya sangat dirindukan oleh setiap jiwa yang bersemayam di wadag fana tubuh manusia. Sedikit demi sedikit kesedihan Riham berangsur hilang. Tetapi, dikarenakan pikiran yang kacau, kesedihan dan penatnya menahan perasaan yang tercampur aduk, Riham pun tertidur di bangkunya.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: