Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

November 17, 2008

Petaka Lereng Lawu – BAB VIII

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 2:07 am
Tags: ,

 

 

 

BAB VIII

 

“ Mas, bangun mas, Ngawi terakhir, mas,…mas…bangun “

 

Sebentuk suara melayang layang di benak Riham. Antara sadar dan tidak Riham tergagap merasa badannya digoyang goyang oleh seseorang. Matanya terkejap sambil melihat sekeliling. Bis sudah dalam kondisi kosong. Seluruh penumpang kelihatannya sudah turun semua dan  hanya nampak wajah kondektur bis didepannya. Riham terkejut melihat wajah kondektur yang nampak tidak ramah itu menatap tajam dengan sorot mata yang aneh kearah wajahnya.

 

“ Mas wes tutuk Ngawi iki, ora mudhun kene? (mas, sudah sampai Ngawi, tidak turun sini) seru kondektur bis tak ramah.

“ Heh?…….iyo, iyo….sik…(iya, iya…sebentar..) “ Riham tergagap gagap menanggapi seruan kondektur.

 

Masih dalam keadaan belum sadar benar, Riham bangkit dari bangkunya dengan enggan. Ada perasaan aneh dibenaknya melihat suasana disekelilingnya. Kondektur yang membangunkannya sama sekali tidak bergerak di tempatnya berdiri dan hanya menatap amat tajam kepadanya. Seluruh bangku bis kosong sama sekali. Terlihat sopir bis dibangku sopir dan kenek bis disebelah pintu depan tidak bergerak sama sekali, hanya diam di tempat masing masing. Yang tidak habis pikir, suasana diluar terlihat sudah remang remang, tanda hari sudah beranjak malam.  Dan terminal bis yang setahu Riham sangat ramai orang berlalu lalang,  hari ini terlihat sangat sepi. Diluar hanya nampak seorang dua orang yang berjalan lambat dan selalu menatap Riham dari luar jendela kaca bis saat melewati dirinya.

 

“ jam berapa ini mas? “ Tanya Riham pada kondektur yang masih tetap ditempatnya.

ra nggowo (tidak bawa) “ jawab kondektur singkat

 

Dengan perasaan yang aneh dan separuh jengkel, Riham bergegas mengambil tasnya yang ditaruh di bagasi di atas bangku dan secepatnya turun bis melewati kenek bis yang dengan aneh tetap berdiri menatap kaca depan bis. Sejenak setelah riham turun, tanpa bicara apapun kenek menutup pin tub is dan bispun berjalan menjauh dengan lambat. Riham hanya menatap heran. Disekelilingnya tak terlihat bis atau kendaraan lain yang parkir di area terminal. Hari nampak gelap. Benak Riham mulai berjalan.

 

“ Aneh, apa bis tadi mogok dijalan? Apa aku tidur begitu pulas sampai aku tak sadar kalau bis ini mogok tadi? Harusnya aku sampai sini jam satu siang tadi….”

 

Riham melihat arlojinya. Jarum menunjukkan angka 12.56. digoyang goyangkan arlojinya. Nampaknya jamnya mati. Riham melihat hape-nya. Jam menunjukkan pukul 13.08 dan tidak nampak indicator sinyal.

 

“ gila, semua jamku mati, sudah sore banget, apa ada ojek nanti ke Njamus…..mana hape ndak ada sinyalnya lagi…” Riham mengguman dalam hati. Mulutnya mengeluarkan suara decakan.

“ gelap sekali….mas..mas…”

 

Riham melihat seseorang berjalan didepannya dan memanggilnya untuk menanyakan angkutan menuju desa Ngrambe jam berapa datangnya.  Seakan tidak mendengar seruan Riham, orang yang berjalan didepannya itu tetap saja berjalan lambat tanpa mengindahkan Riham yang berteriak agak keras memanggilnya. Riham mempercepat jalannya untuk menyusul orang itu. Entah darimana, kabut yang lumayan tebal berhembus di depan. Orang itu berjalan menuju kearah gumpalan kabut dan menghilang dibaliknya. Riham terus saja mengejar orang itu. Perlahan kabut aneh tadi menyusut meninggalkan gambaran area parkir kendaraan pengantar yang nampak kosong. Tidak nampak seorang atau kendaraan yang parkir satupun di area itu. Sunyi, tanpa suara. Riham hanya terbengong menatap ke area tersebut.

 

“ Kemana orang itu tadi? “

 

Riham menengok ke belakang. Kabut tadi datang lagi. Kini hampir menyelimuti dirinya.

Dengan meraba raba, Riham mencari jalan keluar.

 

“ tebal sekali kabut ini, dingin sekali rasanya….darimana ya kabut ini datangnya? “

 

Riham berjalan perlahan lahan sambil mengacungkan tangannya kedepan. Matanya mencari cari jalan untuk menuju trotoar di samping area parkir.

 

“ …..haam……..”

 

Sebentuk suara terdengar lamat lamat ditelinga Riham. Sejenak Riham berhenti didalam selimut kabut. Telinganya berusaha meyaklnkan apa yang baru saja dia dengar. Sunyi. Tak terdengar suara apapun, walaupun hanya jangkrik atau dengingan nyamuk. Semua tetap sunyi. Kembali Riham berjalan mengendap endap.

 

“…..Rihaaam…..haaam…..”

 

Suara itu terdengar lagi. Sayup sayup namun jelas mengiang ditelinganya. Mata Riham membelalak. Jantungnya berdegup keras. Pikirannya berjalan sangat cepat tanpa kompromi. Benaknya bertanya Tanya, apa yang baru saja didengarnya. Kepala Riham menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba mencari asal dari suara tadi. Tapi kembali suara tadi tak terdengar. Riham tidak berani melanjutkan jalannya. Hanya matanya yang melirik kiri kanan. Badannya terasa kaku.

 

“…le…Rihaaam…..kemari …le…

 

Kabut berangsur menyurut meniysakan selimut tipis di depan pandangan Riham. Muncul sesosok wanita dari balik kabut tipis. Semilir angin yang mengusir ketebalan kabut tadi tampak mengibar ngibarkan baju wanita itu.rambutnya terurai panjang. Wajahnya tak terlihat jelas dikegelapan cuaca. Sosoknya hanya mengingatkan Riham pada seseorang. Ya…seseorang yang dia kasihi. Bude. Suara itu yang membuat badan Riham terasa kaku. Jelas sekali itu suara budenya.

 

“ Bude…..” seru Riham pelan “ sedang apa bude disini…..” pikiran Riham berjalan lambat karena tertegun.

“…sini le…..Rihaaaam…..” nampak bayangan itu melambai lambaikan tangannya.

 

Riham bergidik hebat. Tengkuknya meremang. Badannya berangsur dapat digerakkan kembali. Dengan perlahan Riham melangkahkan kaki kearah bayangan wanita itu. Walaupun hatinya menolak, tetapi langkah kaki Riham memaksa untuk berjalan menuju bayangan budenya.

 

“ bude…aku datang bude…tunggu aku….”

 

Mulut Riham menceracau tak jelas. Riham kini mempercepat langkah kakinya. Setengah berlari Riham berusaha menghampiri sosok yang terlihat seperti siluet yang melambai lambaikan tangan kepadanya. Namun sosok itu tak bertambah dekat. Kabut tipis yang melayang layang disekitar itu seakan akan membawa siluet wanita itu menjauh. Riham tak perduli. Dia mempercepat langkah kakinya. Kini dia benar benar berlari. Mulutnya tetap saja berteriak memanggil budenya.

 

Tak lama tiba tiba bayangan itu telah bertambah dekat dengan Riham. Riham menghentikan larinya. Riham berjalan pelan menuju bude yang kini hanya diam berdiri didepannya.

 

“ bude…aku rindu…maafkan aku bude…” mulut Riham menceracau.

 

Bude Darno mengangkat tangan kanannya dan membuka telapak tangannya kearah Riham.

 

“ Riham…..tolong……tolong bude…..” Bude Darno menggumam.

 

Riham semakin mendekat kearah bude. Tangan Riham hampir menjangkau tangan Bude Darno.  Mata Riham terhenti ke sebuah bayangan hitam di belakang bude yang tingginya hampir dua kali lipat tinggi budenya. Sesaat Riham berhenti berjalan. Lalu seakan menyadari situasi, dengan cepat Riham berusaha menggayuh tangan budenya. Tetapi, dia kurang cepat. Sesosok tangan berukuran raksasa berwarna hitam kelam mencengkeram muka Bude Darno dan menarik bude menjauh kebelakang meninggalkan suara teriakan melengking dari Bude Darno

 

“…aaaaaaaaaaaaaaaa………………………………..”

 

Riham terkejut hingga tersungkur kedepan. Lututnya terasa lemas dan hanya menatap bayangan budenya dicengkeram dan tertarik menjauh sambil tangan kanan bude mengacung kedepan seakan meminta Riham untuk menolongnya.

 

“ Budeeee….Budeee…….Tidaaaaaakkkk…………..” Riham berteriak histeris. Tangannya mengacung acung kedepan ingin menggapai tangan budenya.

 

Kabut tebal kembali datang menutupi bayangan budenya sama sekali. Tak terlihat lagi jejak bude dan sosok raksasa yang mencengkeram budenya tadi. Riham tertunduk dan terisak. Ke dua tangannya menutupi wajahnya. Tiba tiba datang angin yang bertiup kencang sekali. Rambut gondrong Riham melambai lambai menutupi wajahnya. Lututnya masih tertancap di tanah. Kabut tebal tadi sontak menghilang. Riham berusaha melindungi matanya dari debu terminal yang berterbangan. Mendadak angin itu berhenti. Matanya berusaha fokus. Sesaat kemudian matanya membelalak. Adrenalinnya berpacu deras. Didepannya berdiri sosok raksasa menjulang tinggi. Tangannya besar hampir menjangkau lututnya. Badannya dipenuhi rambut hitam kelam yang tebal sekali. Riham berusaha mendongak untuk melihat wajah sosok tadi. Ketika dia sampai pada penghujung penglihatannya, tiba tiba lengan yang berukuran luar biasa besar itu terangkat. Riham yakin telapak tangan itu berusaha untuk menggapai wajahnya.

 

“ AAAAAAaaaaaaaa……………………….Tidaaaaakkkkkkkkkkkk………………” Otomatis Riham berteriak sembari berusaha melindungi wajahnya dengan kedua lengannya.

 

 

 

Iklan

2 Komentar »

  1. Yg BAB IV, V, VI, VII mana yach?? kok gak urut??

    Komentar oleh rHen — Desember 19, 2010 @ 2:05 am | Balas

    • ada mbak
      dicari saja
      saya juga bingung ngaturnya
      hehehe

      Komentar oleh harlockwords — Februari 18, 2011 @ 5:00 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: