Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

November 25, 2008

Petaka Lereng Lawu – Bab X

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 2:34 am
Tags: ,

 

 

BAB X

 

 

Riham menggerak gerakkan tangannya dengan cepat. Ia berusaha keras untuk menghindari tangan raksasa yang ingin mencengkeram wajahnya sambil berteriak teriak histeris.

 

“ Tidaaak….tidaakkk…..pergi kauu….enyaaaaah…..!!! jangan ganggu aku!! Ya Allaaaahh…”

 

Riham berteriak sepeti kesetanan. Matanya terpejam, badannya menggigil hebat. Perasaannya bicara bahwa dia tak akan selamat setelah melihat budenya dibawa pergi oleh mahluk hitam berbulu lebat yang kini mengancam jiwanya itu.

 

“ Astaghfirullaaaahh…..aaaaaaaaa…tidaaaaak….pergiiiii….!!!!! ”

 

Kini tangan kirinya telah tertangkap oleh mahluk itu. Riham bertambah panik. Kakinya berusaha menendang mahluk yang kini telah berhasil menangkapnya, tapi kakinya hanya menendang udara hampa. Walau begitu, usahanya tidak berhenti begitu saja. Kakinya tetap saja menendang nendang. Dan perasaannya mengatakan ia berhasil menendang mahluk itu. Teriakannya bertambah keras. Lalu dia mendengar suara seseorang berteriak keras.

 

“ Mas…!!…mas….!!! “

 

Riham tak menghiraukan. Dia tetap saja berteriak teriak. Tangan kanannya memukul tangan yang menangkapnya dengan keras.

 

“ Maass!!!….Hoeii….sadar heee..!! Bangun!! “

 

 PLAAKK!!! Sebuah tamparan hebat mendarat di sisi wajah Riham. Tamparan itu begitu keras hingga membuat pipinya merasa amat panas. Gelagapan Riham berusaha membuka matanya. Rasa panas dipipinya memaksa Riham untuk memusatkan pikiran. Samar samar ia melihat banyak orang mengerubutinya.

 

“ huh….astaghfirullah……..apa ini…..dimana aku…..”

 

Kedua tanganya dipegangi oleh seseorang. Wajah Riham menunjukkan kepanikan yang amat hebat. Mukanya bergetar. Matanya bergerak cepat mengelilingi sekitar tempat ia duduk. Jantungnya berdegup keras berusaha untuk menstabilkan jiwanya.

 

Suasana tidak lagi gelap. Terang sekali malah. Dilihatnya ia masih duduk di bangku bis yang ia naiki tadi pagi.

 

“ Sadar mas, bangun “ orang yang memegangi Riham berkata. Riham berusaha memusatkan pandangannya

“ heh…dimana aku?….”

“ bangun mas, sudah sampai Ngawi “ ujar orang itu

“ Ngawi…?? “ Riham menggumam. Dipaksanya pikirannya untuk berjalan, lambat sekali

“ ya mas, sudah sampai terminal “ ujar orang itu. Lamat lamat ia mulai mengingat orang itu adalah kondektur bis yang ditumpanginya.

“ Terminal ya….Ngawi…”

 

Otak Riham berputar keras. Matanya masih jelalatan memandang ke sekitar. Dilihatnya penumpang bis berdiri dengan pandangan mata tertuju ke padanya. Beberapa orag malah sudah berdiri mengelilinya. Tangan sang kondektur masih mencengkeram tangan kiri Riham. Lalu perlahan ia melepaskan setelah melihat Riham mulai sadar.

 

“ ya mas, Terminal Ngawi , masnya kan turun sini? “

“ iya…ya… “

“ Lagian, mimpi siang siang, udah ngigau , eh…pake nendang nendang lagi…. “

“ ………………. “ Riham yang telah sadar sepenuhnya terdiam sambil menundukkan kepala

“ kalo mau turun cepet mas, bisnya mau berangkat lagi “ ujar sang kondektur bersungut sungut

“ Iya…iya, maaf “

 

Riham gelagapan meminta maaf. Riham melihat pandangan mata para penumpang tajam, tak lepas darinya. Riham merasa amat malu dengan kejadian itu. bergegas ia mengambil barang bawaannya yang ia taruh di atas bagasi dan secepatnya turun dari bis.

 

Suasana terminal nampak seperti biasa. Terang dan ramai. Riham melirik arlojinya. Jam menunjukkan pukul 12.37 menit. Suatu perjalanan yang wajar pikirnya. Ia masih bingung apa yang telah dialaminya barusan. Ia menggeleng gelengkan kepala. Lalu Riham mendatangi salah satu kios untuk membeli sebuah air mineral dan mencari tempat duduk yang terlihat kosong.

 

“ apa yang terjadi tadi? Gila….” Gumam Riham sambil meneguk air minuman ada di genggamannya

“ mimpi yang aneh…hampir seperti nyata…siang siang begini….”

 

Otak Riham terus berjalan menimbang nimbang apa yang telah terjadi. Hampir selama hidupnya, terutama setelah menginjak dewasa, ia belum pernah mengalami mimpi buruk. Apalagi siang hari bolong seperti saat ini. Itu saja sudah sangat aneh. Dan saat ini mimpi itu seperti benar benar menyita kesadaran dan kestabilan jiwanya. Riham masih menggigil hebat. Berkali kali ia meneguk air mineral yang baru saja ia beli itu. Jantungnya masih berdegub keras.

 

Setelah beberapa lama ia termenung, sampailah ia pada satu keputusa. Diambilnya hape dari saku jaketnya dan ia mulai memencet sebarisan nomor. Tak lama ia menunggu, terdengar suara dari orang yang ia hubungi.

 

“ halo ham “

“ ya halo, Bakar? “

“ ya ini Bakar “

“ Kar, aku mau cerita sesuatu, penting “

 

Lalu Riham menceritakan segala sesuatu yang ia alami sewaktu dalam perjalanan di bis tadi pada rekannya di seberang. Riham menceritakan panjang lebar tentang mimpi yang ia alami. Tampaknya Bakar dengan cermat mendengarkan cerita itu.

 

“ hmm….sebentar ham, satu menit saja, jangan kau tutup dulu..”

“ Ok Kar “

 

Sesaat tak terdengar suara dari telepon seberang. Hening. Tak berapa lama terdengar sahutan dari seberang

 

“ Halo…ham, masih disitu? “

“ ya…”

“ kamu tenang saja, kamu teruskan saja sampai Njamus. Aku rasa sepertinya ada yang ndak beres “

“ aku juga merasa begitu dari tadi, Kar “ sela Riham

“ Tapi kamu tenang saja “ sahut Bakar

“ Tenang bagaimana? Jantungku masih saja berdegup kencang begini “

“ Halaah…istighfar Ham, percayalah, Tidak akan ada apa apa yang menimpamu disana “

“…..hhh….” terdengar Riham menghela nafas berat

“ yang penting sekarang adalah kamu temani pakde kamu. Beliau yang lebih perlu mendapat perhatian “

“…he’eh…terus…..?”

“ Masalah ini aku coba pikirkan dari sini. Tapi kamu harus lebih waspada, ok? Banyak banyak dzikir, sekalian doakan budemu agar tenang disisi-Nya. “

“ ya “ jawab RIham singkat.

“ Kalau ada apa apa cepat kamu telpon aku, segera aku menyusulmu “

“ Kamu masih ingat kan jalan kesini? Aku rasa aku akan butuh bantuanmu“

“ masih lah, Gunung Lawu ndak pindah tempat, kan? Hahahaha “ Bakar mencoba berkelakar

“ hahaha…ok kalau begitu, aku berangkat sekarang agar tidak terlalu sore sampai Njamus “

“ ok, hati hati, jangan lupa pesanku “

“ ok, thanks “

 

Riham menutup sambungan hapenya. Setelah hatinya menjadi tenang, ia lalu bergegas mencari angkutan yang berupa bis kecil menuju Desa Ngrambe yang banyak mangkal di bagian luar terminal itu. Setelah berbincang dengan Bakar, Riham mulai mendapatkan ketenangan jiwanya kembali, sepenuhnya.

 

Bakar adalah sahabat Riham sejak ia masih di sekolah menengah. Sebenarnya Bakar masih saudara jauh Riham dari fihak ayah. Sejak pertama bergaul dengan Bakar, Riham sudah menyadari bahwa Bakar mempunya beberapa kelebihan dari teman teman sebayanya yang lain. Apalagi Bakar juga senang sekali merantau hingga berminggu minggu sejak lulus dari sekolah menengah. Bakar amat suka sekali dengan hal hal tentang pengolahan batin. Dari Bakar lah pengetahuan Riham tentang agama dan kebatinan dia peroleh.

 

Tanpa sepengetahuan Riham, Bakar segera menuju kamar mandi untuk bersuci setelah sambungan telepon dari Riham tertutup. Segera setelah bersuci, Bakar menuju bilik kecil di rumahnya yang dipergunakan oleh keluarganya sebagai musholla dan menjalankan beberapa raka’at sunnah, dan menunaikan Sholat Dhuhur sesudahnya, lalu disambung dengan beberapa raka’at sunnah yang lainnya. Lalu ia bersila dan terpekur menghadap kiblat. Nampak keningnya berkerut dan mulutnya tak berhenti bergerak. Tiba tiba ia menghentikan mulutnya. Wajahnya kian ditekuk kebawah. Kerutan keningnya bertambah dalam.

 

“..HHhhhhh……”

 

Bakar menghembuskan nafas yang dalam. Matanya ia buka. Lalu kedua telapak tangannya diusapkan ke mukanya secara bersamaan. Ia menggeleng gelengkan kepalanya.

 

“ ada ada saja….” Bakar bergumam sendiri

“ apa lebih baik aku kesana sekarang? “ Bakar sejenak terdiam. Sepertinya ia sedang berpikir keras

“ lebih baik aku tunggu kabar darinya saja, aku yakin dia masih bisa menghadapi sendiri, kecuali………”

 

 

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: