Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

Desember 2, 2008

Petaka Lereng Lawu – BAB XI

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 5:18 pm
Tags: ,

 

 

Bab XI

 

Perjalanan Riham bukanlah mudah setelah mendapatkan angkutan di depan terminal. Masih teramat jauh jarak jalan yang ditempuh Riham untuk segera melihat gapura Desa Njamus. Setelah meninggalkan Terminal Ngawi menuju Kecamatan Ngrambe dengan menumpang bis mini yang penuh sesak dengan penumpang, Riham masih harus mencegat bis mini menuju Kelurahan Sine yang jaraknya hampir dua kali lipat jarak Kota Ngawi ke Ngrambe.

 

Dengan lamanya waktu yang diperlukan dalam perjalan menuju tempat tujuannya, memberikan keleluasaan untuk RIham berpikir pikir tentang apa yang akan dia perbuat apabila sampai di Njamus. Yang pertama kali adalah berusaha membuat hati pakdenya tenang dan sedikit berbesar hati melepaskan kepergian bude. Riham tahu, peristiwa ini pasti amatlah memukul pakde yang telah sekian lama setia menemani bude.

 

Pakde Riham adalah orang yang setia. Beliau mempunyai kehidupan yang amatlah biasa dan bersahaja. Memang beliau tergolong orang yang berada di kampungnya, akan tetapi beliau tidak menunjukkan kekayaannya dengan kehidupan yang mubadzir menurut beliau. Kehidupan beliau dilewati dengan kesederhanaan bersama Bude. Bahkan untuk mengejar ngejar kemuliaan sebagai pemimpin desa, walaupun banyak orang yang menyarankan dan mendukung beliau, hanya beliau jawab dengan senyuman dan tolakan halus.

 

Beliaupun bukan orang desa yang tidak berusaha untuk mengerti kondisi apapun diluar lingkungan desanya. Beliau hanya aktif dalam kegiatan kegiatan yang bersifat sosial baik yang diselenggarakan oleh kelurahan maupun kecamatan. Hal ini yang membuat beliau akrab dengan ayah Riham.

 

Disamping kesibukan dalam mengolah lahan yang beliau miliki serta kegiatan kegiatan sosial tersebut, beliau selalu menyempatkan diri untuk membawa bude berjalan jalan, walaupun hanya sekedar menghirup udara pagi yang segar disekitar perkebunan teh. Beliau bahkan tak akan pergi sendirian untuk bersenang senang tanpa bude, apalagi berpikir untuk menikah lagi dengan berkomitmen poligami walaupun dalam hal kehidupan beliau sangatlah mampu. Beliau amatlah menyayangi istrinya dengan sepenuh hati walaupun oleh Tuhan Yang Maha Esa beliau berdua tidak dikaruniai putra hingga meninggalnya bude.

 

Riham amat yakin bahwa pukulan yang dirasakan pakde sungguh hebat.

 

“ kasihan pakde…” fikir Riham “ Pakde pasti amat sedih, beliau sungguh menyayangi bude

“ bagaimana nanti kalau pakde tidak bisa menerima kenyataan…kalau pakde jadi sakit sakitan sesudahnya…ah “ sejenak Riham menggeleng gelengkan kepalanya

“ semoga Tuhan memberikan kekuatan iman pada pakde…” Riham berdoa sambil menerawang jauh kedepan “ semoga keselamatan selalu ada padanya….”

 

Lalu Riham kembali terpekur. Banyak sekali yang melayang layang dipikirannya, antara segala perhatian penuhnya kepada pakde dan kekhawatirannya tentang firasat yang baru saja dia alami. Ketajaman batin Riham memang belum terasah benar, tetapi dengan tuntunan Bakar, perlahan Riham mulai mematangkan ilmunya walaupun masih jauh untuk menjadi setajam batin Bakar. Riham yakin akan firasat itu. Seyakin bahwa ia akan menemui malam di penghujung hari ini. Hingga tanpa disadarinya, perjalanannya telah berujung di sebuah pertigaan di Desa Sine yang salah satu cabangnya akan membawa Riham menuju gerbang Desa Njamus.

 

Riham turun dari bis kecil yang membawanya ke tempat itu. kepalanya menoleh ke kanan dan kekiri untuk menemukan kendaraan terakhir yang akan ditumpanginya menaiki lereng Gunung Lawu. Pandangannya berhenti diujung jalan. Ia melihat sebuah bangunan kecil dari kayu yang hanya ditata sekedarnya untuk membentuk sebuah atap. Dibawahnya nampak beberapa sepeda motor berbagai merek yang terlihat diduduki oleh sebagian pemiliknya. Lalu Riham mendekati bangunan itu.

 

“ Ojek mas? “ tiba tiba salah seorang menyapa Riham sembari mengacungkan tangannya.

“ Ke Njamus berapa mas? “ Riham kembali bertanya kepada orang yang menyapanya.

“ Ke desanya apa langsung ke perkebunan? “

“ ke desanya “

“ lima belas ribu mas “

“ wah…mahalnya, sepuluh ribu deh “ Riham menawar harga yang diberikan sopir ojek itu

“ jangan mas…dua belas ya mas? “ kembali si sopir menawarkan harganya

“ baiklah…agak cepet ya  “ Riham menjawab sembari menaiki boncengan sepeda motor

“ iya mas, ini helmnya “ si sopir memberikan sebuah helm butut kepada Riham

 

Motor itu pun melaju ke arah percabangan jalan menuju lereng gunung. Pada awalnya motor melaju dengan kecepatan lumayan tinggi di jalan yang tak terlalu lebar itu. setelah beberapa lama, kecepatan motor berkurang saat jalan aspal telah menghilang tergantikan dengan jalanan berkerikil.  Jalanan makadam yang terbentang di sepanjang lereng itu perlahan menanjak melewati beberapa petak sawah lalu beberapa daerah yang masih ditumbuhi belukar dan hutan kecil. Sesekali motor sedikit oleng menghindari beberapa batu besar yang berserakan di sepanjang jalan.

 

Setelah beberapa saat berlalu, nampaklah plang besar bertuliskan “Desa Njamus”. Dada Riham bergetar hebat. Ia membayangkan bagaimana ia akan menghadapi pakdenya. Apa yang seharusnya dia katakan. Menghadapi pakde lebih sulit daripada memberi nasehat pada ibunya, begitu pikir Riham. Pakde pasti lebih dalam dukanya. Tak terasa perjalanan Riham akan segera berakhir di pelataran rumah Pakde Darno.

 

Sesampainya di pelataran sebuah rumah, Riham meminta sopir ojek untuk menghentikan motornya. Setelah memberikan ongkos, sopir ojek itu perlahan berlalu dari pandangan Riham. Ia menatap pelataran rumah itu. suasana masih ramai dengan orang orang yang setelah prosesi pemakaman tetap tinggal untuk sekedar menghibur duka yang ditinggal pergi. Gelas gelas minuman masih tetap berada di meja meja kecil yang disediakan untuk para tamu walaupun sudah ditinggal pulang oleh tamunya. Beberapa orang nampak berlalu lalang merapikan sisa makanan serta sampah sampah yang berserakan di sekitar pelataran. Tak nampak Pakde Darno diantara mereka, hanya terlihat beberapa tetangga yang menemani tamu dari desa lain dan dari kota di halaman yang terlihat penuh dengan kursi kursi dan meja meja kecil di sekelilingnya.

 

Sambil menenteng backpack-nya Riham maju perlahan menuju pagar pendek yang mengelilingi halamn rumah dan melewati orang orang yang berkumpul dalam kelompok kelompok kecil sembari mengangguk ramah kepada orang yang sengaja menatapnya. Dari arah samping, tampak seseorang berlari kecil menuju Riham dan menepuk pundaknya.

 

“ loh, dik Riham, baru datang? “ ujar orang itu

“ eh…, inggih Lik Wanto, nembe mawon (baru saja), mana pakde? “ jawab Riham kaget

“ ayo kebelakang “

Orang yang disebut Lik Wanto itu berjalan mendahului Riham. Dengan tergesa gesa Riham berjalan agak cepat menyusul Lik Wanto. Setelah mereka memasuki sebuah pintu kayu di sisi dalam teras rumah, mereka berhenti di ruang keluarga. Nampak beberapa orang duduk bersila di lantai dengan alas tikar. Lik Wanto berbisik ke telinga Riham dan menunjuk salah satu dari orang orang tersebut. Lalu Riham mendekati orang itu, sedangkan Lik Wanto kembali ke pekerjaannya semula.

 

“ Pakde…” seru Riham sembari berjalan jongkok mendekati pakdenya

“ Looh…le….baru datang? Sama siapa kamu? “ seru Pakde Darno terkejut. Tamu yang ditemani beliau menoleh bersamaan ke arah Riham.

“ Sendirian pakde, ibu minta maaf ndak bisa datang, kesehatannya sedang menurun, pakde, beliau menitipkan salam, mungkin lain hari akan datang kemari untuk nyekar (berziarah) “ jawab Riham panjang.

“ iya, iya, ndak apa apa, suruh banyak istirahat saja ibumu, jangan boleh mikir macam macam, eh iya, ini Riham, ponakan saya Pak Tarto, anak adik saya yang di Surabaya, ini ham, kenalan dulu, teman teman pakde dari Dinas Pertanian Ngawi, sekarang sudah pada pensiun “

 

Sambil tersenyum Riham memberikan tangan kananya untuk bersalaman dengan teman teman pakde Darno. Mereka bertiga kira kira hampir sama umurnya dengan Pakde Darno, hanya selisih sedikit sedikit saja. Dengan ramah mereka menanyakan bergabai hal tentang Riham yang dijawab dengan ramah dan sopan oleh Riham. Sesekali pakde Darno menimpali dengan pujian pujian tentang anak angkatnya itu yang dijawab dengan sanggahan halus oleh Riham. Riham bertanya tanya dalam hati, dimana kekhawatirannya tentang pakdenya tadi? Mengapa muka pakde tidak terlihat tertekuk dengan penderitaan dan kesedihan yang mendalam walaupun masih terlihat sembabnya pelupuk mata pakde? Begitu tegarkah beliau? Banyak sekali yang ingin dia tanyakan pada pakdenya.

 

Beberapa saat setelah  ngobrol bersama, teman teman pakde pamit pulang. Kemudian pakde mengantarkan teman temannya hingga pelataran rumah. Lalu pakde kembali ke ruang tengah untuk menemui Riham yang menunggu disana.

 

piye ham? Kabarmu, apik wae to? “ ujar pakdenya sesaat setelah memasuki pintu utama. Lalu pakde menempati tempat duduknya di depan Riham.

“ alhamdulillah, baik baik saja pakde “ jawab Riham

“ bisnismu piye ? ndak ada masalah? “

“ baik pakde, alhamdulillah kami sedang banyak kontrak “

“ alhamdulillah, lha terus….ra opo opo kowe tinggal mrene? (ndak apa apa kamu tinggal kesini) “

“ ada yang mewakili, pakde, bagaimana dengan pakde? “ Riham menanyakan kembali pada pakdenya

“ yah…” seperti faham dengan yang ditanyakan Riham, Pakde Darno menghela nafas panjang, “ baru beberapa jam saja budemu pergi, hati ini sudah rindu sekali, ham “ pakde menjawab dengan mata berkaca kaca

“ tapi semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, kita manusia ndak bisa seenaknya menolak keputusan-Nya, berarti tugas budemu menemani pakde sudah selesai, tinggal pakde yang harus melanjutkan tugas sebagai mahluk-Nya, pakde sudah siap semenjak dulu, bahwa suatu saat nanti bude dan pakde harus berpisah dengan cara apapun “ pakde melanjutkan.

 

Nampak begitu tegar Pakde Darno menjalani semua ini. Tak nampak penyesalan sedikitpun di raut wajahnya yang selalu tersenyum itu. Hanya sedikt saja rasa rindu yang mendalam kepada istrinya nampak di pelupuk mata yang menerawang dan berkaca kaca.

 

“ bertahun tahun kami bersama, ham, juga denganmu, masa masa yang penuh nikmat dari Allah, pakde rasa sudah cukup banyak anugrah dari Yang Maha Esa buat pakde dengan adanya bude dan kamu disisi pakde. Bila saatnya Sang Empunya meminta kembali milik-Nya, kita harus ikhlas mengembalikannya. Bukan begitu, le? “

“ benar pakde “ jawab Riham. Riham hanya mengangguk anggukkan kepalanya. Dia sangat bangga dengan pakdenya yang telah mendalami arti kehidupan sebagai mahluk Allah dengan nyaris sempurna.

“ memang seharusnya begitu, pakde…..walaupun dalam hati kita harus menanggung rindu “

“ ya…kalau kita bicara rindu, selamanya pakde akan selalu merindukan budemu, ham, anggap saja ini adalah cobaan sekaligus anugrah, kita jalani saja semua dengan ikhlas, oh iya…….sebaiknya kamu taruh dulu bawaanmu ke kamar ham, kamu mandi mandi dulu, ada sedikit makanan di dapur, kamu ambil sendiri saja, dibelakang juga banyak tetangga yang rewang (membantu bila tetangga punya hajat), pakde mau menemui tamu tamu diluar, pakde tunggu diluar “

inggih pakde “ jawab Riham singkat

 

Tak habis fikir Riham. Begitu besar kelapangan hati pakdenya. Ikhlas beliau menghadapi takdir dan cobaan, dianggap semua sebagai nikmat. Benar benar wujud kepasrahan yang tertinggi bagi seorang mahluk Tuhan. Tak heran bila hampir tak pernah luput waktu Pakde Darno setiap harinya memasrahkan diri kepada Sang Khalik, dalam setiap usaha yang beliau kerjakan, dalam setiap langkah kakinya, beliau selalu memanjatkan sukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

 

Dengan menahan perasaan hati, Riham melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar yang amat bersahabat dengannya. Kamar itu masih bersih dan rapi, seperti terakhir dia tinggal beberapa tahun yang lalu. Banyak kenangan bagi Riham di kamar ini. Tempat dia tidur, bermain, dan belajar ditemani oleh budenya. Segera Riham meletakkan tasnya dan duduk sejenak di pembaringan yang semuanya masih tampak licin. Pandangannya menebar ke sekeliling ruangan, masih tetap seperti dulu, bahkan jam dinding itu masih saja ditempatnya walaupun sudah tidak berjalan lagi. Meja belajar pun masih tegak bersandarkan dinding di ujung kamar. Ingatannya kembali melayang pada saat dia masih belajar di kamar ini dengan budenya duduk di pembaringan sambil merajut. Tak jarang bude menyiapkan minuman hangat saat Riham belajar dan meletakkan di meja kecil disamping meja belajar ini.

 

Riham berdiri dan melangkah ke arah meja belajar itu. tangannya bergerak mengelus pinggiran meja dangan halus. Tak terasa matanya menjadi panas. Riham menggeleng gelengkan kepala, lalu mengambil beberapa perangkat mandinya dan bergegas ke kamar mandi yang terletak di belakang bangunan utama. Riham berpapasan dengan banyak perempuan yang sedang menyiapkan makanan untuk acara tahlil sehabis Isya’ nanti. Kepalanya mengangguk ramah kepada setiap orang yang dilewatinya sembari mengucapkan kata kata permisi dengan sopan. Orang orang membalas ramah kepadanya dengan senyuman lebar, tak sedikit yang berbisik bisik tentang Riham. Kebanyakan mereka masih ingat Riham kecil yang nakal, sekarang telah menjadi pemuda matang dihadapan mereka. Riham faham bahwa ia jadi bahan pembicaraan, ia hanya tersenyum sambil secepatnya berlalu menuju kamar mandi.

 

Setelah selesai mandi dan bersiap diri, Riham segera menyusul pakdenya yang sedang menemui beberapa tamu yang hadir silih berganti di halaman rumah yang lumayan besar itu. Pakde Darno bertambah sibuk dengan mengenalkan Riham kepada teman temannya. Tak jarang pakde juga memuji muji ponakannya itu. Riham hanya tersenyum tanpa mengelak atau membenarkan pujian pakde.

 

Setelah beberapa lama, seseorang mendekat kepada mereka berdua. Ia memberi salam kepada para tamu dan mendekati Riham yang sedang duduk di samping Pakde Darno.

 

“ Dik Riham, bagaimana kabarnya, lama ndak pernah kesini ya, lupa sama saudara di desa “

“ He…Mas Tono, baik mas, bagaimana kabar mas Tono? “

apik dik, waah, tambah gagah ae iki, tambah sukses rupanya? “

“ Alhamdulillah mas, biasa saja, Mas Ton bagaimana? Masih nggarap sawah ya? “ Riham kemali bertanya

“ waah…masmu iki ape nyaingi pakdemu (mau menyaingi pakde) ham, sawahnya tambah lebar, sukses dia ham “ kali ini Pakde Darno yang menyauti obrolan mereka.

“ aah…Lik Darno ini bisa saja, jangan percaya dik “ Tono menimpali dengan malu malu

“ pasti beneran mas, saya percaya saja sama pakde, hahaha “ Riham tertawa kecil

 

Lalu mereka berdua membuka perbincangan sendiri, sedangkan pakde melanjutkan pembicaraannya dengan rekan rekannya. Obrolan mereka seputar pergaulan masa kecil Riham di Njamus beberapa belas tahun yang lalu dan tentang sawah sawah serta ladang yang tumbuh sempurna di tangan tangan yang piawai.

 

“ eh iya mas, aku benar benar berterima kasih Mas Ton memberi kabar kepada ibu “ ujar Riham tulus

“ alah, gak papa dik, memang seharusnya begitu, aku kan Cuma menjalankan kewajiban saja “ jawab Tono.

“ nanti sore aku mau ke makam bude mas, aku agak agak lupa jalannya, bisa nganter saya mas? “

“ boleh dik, setelah ashar sekitar jam empat tak jemput di sini ya, aku mau nginguk (melihat) sawah sebentar habis ini, tak lihat semua sudah bersih, jadi aku tinggal ke sawah sebentar “

“ jangan ham “ Pakde Darno menyela pembicaraan mereka “ jangan dulu hari ini, besok pagi saja kamu nyekarnya, lebih baik kamu di rumah hari ini…” pakde berhenti sejenak seperti memikirkan sesuatu. Matanya beradu dengan mata Tono “ …bantu pakde menyiapkan tahlil nanti malam “

“ baiklah pakde, besok saja Mas Ton, kita ke makamnya ”

“ baiknya juga begitu dik, ya sudah, aku mau berangkat dulu, habis sholat Ashar aku kesini lagi “

yo wes mas, hati hati “

 

Tono pergi menuju tempat dia bekerja setelah mengucapkan salam pada Pakde Darno dan teman temannya. Riham kembali larut dengan pembicaraan Pakde Darno. Sesekali dia ikut menimpali pembicaraan. Tak lama kemudian para tamu pamit pulang, sedangkan Pakde Darno menyuruh Riham untuk istirahat dulu di kamar. Riham yang merasa kecapekan dengan  pikiran pikiran yang berat, yang sedikit banyak hilang dikarenakan keadaan pakde tidak seperti yang ia bayangkan, mengiyakan permintaan pakdenya. Lalu Pakde Darno pun memasuki kamarnya untuk beristirahat juga

 

 

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: