Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

Desember 8, 2008

Petaka Lereng Lawu – BAB XII

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 3:15 pm
Tags: ,

 

 

 

 

Bab XII

 

 

Tahlil hari pertama didatangi hampir segenap warga Desa Njamus. Dikarenakan bangunan utama rumah Pakde Darno tidak seberapa besar, maka acara tahlil diadakan di halaman rumah yang lumayan luas itu. Kerabat Pakde Darno memesan beberapa tenda untuk tiga hari siang tadi, mengingat acara tahlil dilakukan selama tiga hari berturut turut. Tamu yang datang bukan hanya dari warga sekitar saja. Kepala desa dari beberapa kelurahan tetangga terlihat hadir malam itu. Tentu saja warga desa sekitar Desa Njamus terutama anggota organisasi pertanian tingkat kecamatan tak mau ketinggalan untuk mengikuti acara doa bersama untuk mendoakan mendiang Bude Darno. Sehingga hampir saja tenda yang dipesan itu tak mampu melindungi seluruh undangan yang hadir.

 

Banyaknya tamu yang hadir membuat sebagian warga Desa Njamus yang terdekat dengan Pakde Darno terlihat sangat sibuk membantu pakde untuk mempersiapkan segala sesuatunya di halaman belakang yang disulap menjadi dapur raksasa. Riham pun tak tinggal diam. Ia berinisiatip untuk membantu di belakang saja daripada ikut duduk mendampingi pakdenya di halaman depan. Ia merasa tak enak bila hanya diam saja. Nampak Riham mondar mandir dari halaman depan ke halaman belakang dengan melewati sebuah lorong kecil di samping bangunan utama yang menghubungkan kedua area tersebut. Beberapa warga perempuan nampak mengaduk  dandang (tempat menanak nasi) besar yang diletakkan berjajaran, sebagian yang lain sibuk membalik gorengan ikan dan lauk pauk lainnya. Warga laki laki terlihat bersama sama dengan Riham mondar mandir mempersiapkan hidangan untuk para tamu seusai acara doa bersama nanti. Suasana dibelakang tak kalah penuh dan riuh dibanding didepan yang ternyata telah dimulai dengan dipimpin oleh modin (pemimpin doa) kampung Njamus.

 

Sekitar pukul delapan lebih beberapa menit, acara pun usai. Beberapa kerabat nampak belum akan beranjak dari rumah pakde. Mereka terlihat sedang brbincang bincang dengan sesama tamu di halaman. Mereka duduk bersila beralaskan tikar mengelilingi hidangan yang disediakan oleh tuan rumah. Sesekali mereka mengambil sebatang rokok yang diletakkan di sebuah gelas ditengah tengah hidangan dan menyulutnya.

 

Riham yang telah selesai pekerjaannya dibelakang, mendekati sebuah kelompok yang ada paling dekat dengan teras. Pakde Darno tak nampak diantara mereka. Entah kemana pakde, yang paling mungkin adalah sedang di kamar beliau. Entah istirahat atau berganti busana. Sedang Riham mulai menyalami para tamu untuk sekedar menyapa atau berkenalan bagi mereka yang belum mengenal Riham.

 

sugeng dalu (selamat malam), mas “ Riham menyapa dengan tutur katanya yang halus.

sugeng dalu “ seru mereka hampir bersamaan

monggo Mas Riham, duduk sini “ kata salah seorang dari mereka

“ ya, sampeyan Mas Benu kan, kita pernah satu sekolahan SD dulu “ tanya Riham pada salah satu dari mereka sambil menjabat tangannya ramah

“ waah….masih ingat ya, aku pikir susah lupa sama teman di desa,haha “ seru Benu sambil tertawa kecil

“ ingat dong mas, kita dulu kan sering nyari belut bareng pas pulang sekolah, malah kalau ndak salah Mas Benu pernah nyungsep sepedanya di sawah pak…pak siapa dulu mas? “

“ Danang “ sahut Benu singkat

“ iya, Pak Danang, trus aku dan teman teman nulunginnya susah, soalnya sepedanya nancep di lumpur, sampeyan cuman mringis mringis di pinggir pematang “ cerita Riham bernostalgia

“ hahahaha…” yang lain tertawa

“ Dik Riham inget saja, jadi malu nih dik, hahaha “ tandas Benu sambil tertawa

“ kemana saja mas? Kok ndak pernah kelihatan pas aku kesini “ tanya Riham pada Benu

“ Biasa dik, ndak lama setelah lulus SD, aku merantau ke Batam ikut saudara bapakku, baru beberapa tahun ini kembali “ jawab Benu

“ waduh… sukses nih “

“ alhamdulillah, sudah punya pengalaman kerja di mesin dik, sebentar lagi aku berangkat ke Korea, ikut program Depnaker “ jawab Benu

“ waah…syukurlah kalau begitu, bisa kumpul kumpul modal pulang nanti “

“ doanya dik “

“ Insya Allah “ jawab Riham dan di-amini oleh yang lain

“ Oh ya dik, kenalkan ini Mas Rojak, Mas Genthu, Mas….” Benu memperkenalkan tamu tamu yang lain pada Riham satu persatu. Riham menerima uluran jabat tangan dari mereka dengan hangat.

“ bagaimana kabar Surabaya dik? “ tanya salah satu dari mereka, kali ini Mas Genthu angkat bicara

“ aman mas, cuman suhu politik lagi hangat “

“ oo, persiapan Pilkada beberapa tahun lagi ya? Disini masih adem ayem “ sahut Rahmat, tamu yang lain

“ masih nunggu dari Surabaya mungkin mas, nunggu keputusan dari partai masing masing “

“ mungkin juga “

 

Mereka berbincang bincang dengan gayeng (hangat) membahas berbagai macam hal. Dari topik ini ke topik yang lain. Sesekali mereka melemparkan gurauan yang lucu antar sesamanya. Mereka sengaja bercanda tanpa bermaksud menghina keluarga yang ditinggal pergi. Tetapi lebih kepada ingin menghibur yang kesusahan agar tidak terlalu bersedih dengan meninggalnya keluarga mereka. Beginilah kehidupan di Njamus, satu kampung adalah satu saudara, apabila ada yang kesusahan, yang lain akan datang menghibur dengan suka rela dan senang hati.

 

“ omong omong, kabarnya Merapi bagaimana ya? “ kata salah satu dari mereka

“ iya ya, kata di berita, wedus gembel-nya sudah berkurang, hampir pasti ndak jadi meletus “

“ tapi getaran gempanya masih sering terasa “ kata Riham

“ betul, mas, bahkan terasa sampai disini “ jawab Rojak

“ apa nanti Lawu terpengaruh ya? “ yang lain balas bertanya

“ hmm…bisa jadi, kan kata berita gunung gunung di Indonesia sedang bergerak, kabarnya sih dikarenakan lempengan di Aceh yang rontok dulu itu, jadi merembet ke seluruh jalur tektonik “ jawab Riham

“ Ah…masak sih mas? “ tanya Benu

“ yaa…itu sih kata ahli geologi “ jawab Riham

“ sepertinya tidak sampai ke Lawu…” seseorang yang bernama Suroyo menjawab

Riham penasaran dengan jawaban yang optimis itu, ia bertanya kembali

“ kok bisa lik? “ tanyanya

“ itu dilihat dari sejarahnya, menurut orang orang tua jaman dahulu, walaupun Merapi meletus berkali kali, Lawu yang disebut saudara Merapi tidak pernah meletus hebat “ terang Suroyo

“ hmm…terus lik..” rasa penasaran Riham bertambah. Yang lainnya terdiam mendengarkan

“ paling hanya sekali yang pernah diceritakan warga sini turun temurun, sekitar tahun seribu delapan ratusan(*) gunung ini berguncang, tapi tidak sampai meletus. Malah merapi menyusul beberapa tahun kemudian meletus dengan hebat “

 

 

“ ya..Merapi meletus sekitar tahun tahun itu, terus Lik Royo…” Rojak menyahuti

“ kata orang jawa, Lawu ditunggui oleh orang sakti titisan Gatutkoco (**), dia diagungkan oleh keluarga lelembut di jawa ini, banyak orang bilang dia yang mencegah Lawu mengamuk, namanya Ki Branggong, tapi dengan pengorbanan yang besar. Butuh banyak tumbal “ lanjut Paklik Suroyo panjang lebar

  

“ hm..masa..beberapa hari terakhir ini…” Mas Benu menggumam sendiri. Riham mendengar sekilas gumaman Benu. Lalu ia bertanya

“ Kenapa beberapa hari terakhir ini mas? “ tanya Riham. Benu menoleh kepada Riham dengan mendadak. Lalu dia menoleh kepada teman temannya yang lain.

“ kenapa mas? “ Riham kembali bertanya.

“ ah…enggak dik, ndak apa apa “ mata Benu mengerjap ngerjap. Riham mengernyit. Ia merasa ada yang disembunyikan oleh mereka. Tapi dia diam saja. Lalu ia mencoba mengalihkan pembicaraan walaupun kecurigaan masih melanda dadanya.

“ lanjut Lik Royo, siapa namanya tadi..?”

“ Ki Branggong, orang orang desa sini tahu semua dik “

“ aku juga pernah dengar dulu sekali lik “ kata Riham “ biasanya orang tua dulu nakut nakuti anaknya dengan nama itu, aku masih ingat samar samar “

“ katanya banyak orang yang pernah lihat sosoknya dik, waktu nyari kayu bakar di hutan pinus lereng gunung, kebanyak pas malem suro, makanya banyak orang ndak berani berkeliaran pas malem suro disini  “ lanjut Lik Royo

“ ah…masak? “ timpal Riham tidak percaya “ jaman kayak gini lik…”

“ kalau aku sih ndak pernah lihat, cuman diceritai sama yang pernah lihat saja “ kata Lik Royo

“ sudah ah…jangan cerita itu lagi, yang penting Lawu ndak ngamuk, beres “ kata Genthu. Nampak badannya menggigil, entah karena hawa dingin atau karena memang takut dengan pembicaraan tentang Ki Branggong.

“ ya sudah, ada yang jireh nih, ganti topik saja “

 

Lalu mereka mengganti arah pembicaraan ke topik yang lain. Tetapi Riham masih penasaran dengan apa yang ia dengar barusan. Ia berpikir bahwa sedang terjadi sesuatu di Njamus, yang sebagian orang ternyata enggan mebicarakan. Riham berencana untuk mencari petunjuk lebih lanjut kepada orang yang mau memberi keterangan.

 

Mereka berkumpul hingga larut malam. Riham yang masih merasa penat karena perjalanannya siang tadi, walaupun tubuhnya sudah sejenak diletakkan di pembaringan tadi sore, pamit untuk beristirahat di kamarnya. Yang lain melanjutkan obrolannya hingga sekitar jam sebelas malam.

 

Riham masuk ke kamarnya setelah sejenak ia membasuh mukanya di kamar mandi. Ia duduk di tepi dipan. Kepalanya ditenggadahkan, Pandangannya menerawang. Pikirannya berjalan menata nata kembali pembicaraan yang baru saja dia lakukan bersama sama beberapa penduduk desa Njamus tadi dengan firasat yang ia alami tadi siang.

 

“ tadi aku yakin sekali raut muka Mas Benu, ada yang aneh disini…”

“ apa Bude…ah, belum jelas benar, aku harus mencari tahu lebih banyak nanti, aku istirahat dulu saja sekarang, besok aku harus nyekar

 

Lalu Riham merebahkan badannya di pembaringan itu. Dia coba memejamkan matanya, tetapi sulit sekali dia untuk memulai memasuki wilayah mimpinya. Pikirannya masih saja berputar putar di sekitar permasalahan budenya. Sekali lagi penat yang menjajah tubuhnya kembali memenangkan pertarungan, ia pun tertidur pulas.

 

 

Tengah malam pintu kamar tidur Riham diketok oleh seseorang. Riham terbangun mendengar suara ketokan halus di dinding papan kamarnya. Matanya mengerjap ngerjap sejenak menyesuaikan dengan lingkungan. Lalu dia duduk dipannya. Telinganya masih menangkap suara ketukan halus itu.

 

“ Siapa..? “ seru Riham

 

Sepi. Tidak terdengar jawaban balasan. Tetapi ketokan halus itu tetap terdengar dan menjadi semakin sering. Rihampun beranjak dari tempat tidurnya. Dia berjalan menuju pintu kamar tidur untuk membukakan pintu. Walaupun dengan kesal, ia berpikir pasti pakde yang membutuhkannya malam itu.

 

Perlahan Riham membuka pintu jati tua yang mengeluarkan suara berderit keras. Tidak nampak seorangpun dibalik pintu yang ia buka. Suasana remang remang, namun ia yakin bahwa tidak seorangpun di ruangan tengah rumah Pakde Darno yang lampunya dimatikan. Suara ketukan itu tetap terdengar. Riham menajamkan telinganya untuk mencari arah suara yang mengganggu tidurnya itu. Tiba tiba ia tersadara bahwa suara itu bukan berasal dari balik pintu kamar tidurnya. Suara itu berasal dari jendela kamar yang terhubung dengan halaman samping rumah pakdenya.

 

 (*) Wiki pedia , The only reported activity of Lawu took place in 1885, when rumblings and light volcanic ash falls were reported

(**) Ramalan Jayabaya,

dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetan

wetane bengawan banyu

andhedukuh pindha Raden Gatotkaca

arupa pagupon dara tundha tiga

kaya manungsa angleledha

 

asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur

sebelah timurnya bengawan

berumah seperti Raden Gatotkaca

berupa rumah merpati susun tiga

seperti manusia yang menggoda

Iklan

1 Komentar »

  1. hmm, mas har, tlg hurup kapital di awal….ketukan mas dudu ketokan…

    siip lah

    Komentar oleh dkutabali — Januari 16, 2009 @ 1:42 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: