Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

Desember 10, 2008

Petaka Lereng Lawu – BAB XIII

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 2:57 am
Tags: ,

 

Bab XIII

  

 

Bulu kuduk Riham meremang mengetahui hal itu. Suara ketukan itu tetap saja terdengar. Tak terdengar suara manusia dari balik jendela kamarnya, hanya ketukan halus itu saja yang terdengar mengusik kestabilan jiwanya. Badannya menggigil hebat, otaknya berpikir apakah ia akan membuka jendela itu atau membiarkannya lalu meloncat ke tempat tidur dan menutupi seluruh badannya denga selimut, rapat. Tapi susunan kimiawi tubuhnya mengambil keputusan yang beresiko. Perlahan sambil mengendap endap ia berjalan menuju jendela kamar dan meraih grendelnya. Suara ketukan itu mendadak berhenti seakan tahu bahwa penghuni kamar berniat untuk membiarkannya masuk. Dengan tangan yang gemetaran hebat, ia buka selot grendel dan membuka jendela perlahan lahan.

 

Tiba tiba hembusan angin yang lumayan keras menerpa wajahnya. Rasa dingin aneh mulai menjalar di seluruh permukaan tubuh Riham. Saking kerasnya, rambut Riham sampai melambai lambai ditiup angin itu. namun angin aneh itu hanya sedetik saja meniup ke arah dalam kamar. Kembali suasana menjadi sunyi senyap, tak terdengar suara apapun. Riham menajamkan penglihatannya menuju ke arah halaman samping rumah pakde. Ia tak menangkap apapun disana. Lalu ia menoleh ke arah jam di meja belajar di samping jendela. Tepat pukul satu lebih lima belas menit. Kembali ia menengok keluar. Tiba tiba pandangannya terpaku pada sesosok bayangan yang bergerak cepat di antara gerumbul pohon bambu yang tumbuh diluar pagar halaman. Tak jelas apa yang ia lihat. Bayangan itu terbang kesana kemari, terkadang berhenti sejenak seakan akan mengawasi jendela kamar Riham dari tempatnya berdiri. Yang nampak jelas adalah sorot mata mahluk itu yang menyala merah dikegelapan.

 

Badan Riham bergetar hebat, keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya. Ingin sekali lengannya bergerak menutup daun pintu jendela itu, namun seakan akan ada kekuatan yang menghalangi pergerakan otot otot Riham. Untuk bersuara pun ia tak sanggup. Lengan Riham bergetar memegang daun pintu jendelanya. Ia paksakan badannya untuk bergerak. Ia berusaha sekuat tenaga hingga akhirnya ia berhasil bergerak, namun mengakibatkan Riham jatuh terduduk di lantai kamarnya. Dengan cepat ia berdiri kembali dan berjalan mundur dengan tergesa gesa. Matanya tak beranjak dari luar jendela yang masih terbuka lebar itu.

 

Tiba tiba punggungnya menabrak sesuatu yang ia rasa bukan dinding papan ruangan tempat ia tidur. Dengan terkejut ia membalikkan badannya. Gerakan yang tiba tiba disertai keterkejutan yang hebat itu membuat ia kembali jatuh terjengkang kebelakang. Di keremangan suasana kamarnya, ia melihat sesosok manusia memakai baju putih kusam dengan rambut tergerai awut awutan di punggungnya. Muka sosok itu menatap tajam kearah Riham. Kembali sebuah kekuatan yang entah darimana membuat tubuh Riham menjadi kaku. Wajah sosok itu yang pucat bagai tak berdarah. Beberapa saat sosok itu hanya diam tak bergerak menatap Riham yang menggigil ketakutan. Lalu seperti melayang, sosok itu mendekat kearah Riham yang duduk terjengkang didepannya. Sosok itu kemudian merunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Riham. Tanpa bisa menghindar, memejam pun Riham tak kuasa, wajah Riham berhadap hadapan dengan mahluk yang menakutkan itu dan hanya berjarak sekitar kurang lebih dua puluh senti saja.

 

Tiba tiba sosok yang wajahnya berada tepat di depan wajah Riham itu menunjukkan wajah yang amat memilukan. Matanya menjadi redup, bibirnya bergetar seakan ingin mengutarakan sebuah cerita yang menyedihkan. Riham menjadi terheran dengan keadaan yang ia alami saat itu. Perasaan yang mencekam hati dan jiwanya tadi telah hilang digantikan dengan perasaan hiba. Walaupun tidak dengan kata kata, sosok menyeramkan didepan Riham telah menancapkan auranya pada psikis Riham. Lalu sosok itu menggerakkan bibirnya dan mengeluarkan suara yang menyayat hati siapa pun yang mendengarkan.

 

“ tolong…tolong kami…..”

 

Hanya kalimat itu yang diucapkan berulang ulang oleh sosok yang seakan akan baru saja keluar dari alam kubur itu. Riham hanya melongo melihat sosok itu bergumam kepadanya. Lalu tiba tiba tanpa menghentikan kalimat kalimat yang berulang ulang, lengan mahluk mengerikan itu menjulur kearah wajah Riham. Riham yang tadi merasa iba, kembali ketakutan dengan keadaan ini. Lalu ia mendengar teriakan melengking yang berasal dari luar jendela. Sosok mengerikan yang berada didepan Riham seperti terkejut melihat kearah jendela dan ikut berteriak keras dan melengking menunjukkan gigi gigi yang kotor kekuning kuningan. Ludahnya bercipratan kemana mana.

 

Riham yang ternyata sudah bisa bergerak, menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan. Matanya terpejam menahan pedih di telinganya. Tiba tiba telapak tangan sosok itu telah menjamah wajah Riham dan mencengkeramnya erat. Riham terkejut setengah mati. Tangannya menggapai gapai ingin melepaskan diri. Erat sekali cengkeraman mahluk itu. Riham tak berdaya untuk melepaskan cengkeramannya. Jiwanya yang di cekam oleh ketakutan yang luar biasa itu sudah kalah. Seperti orang yang kehilangan akal, Riham hanya menjerit jerit tertahan dalam cengkeraman mahluk mengerikan itu.

 

 

Riham bangun terduduk di pembaringan dengan tiba tiba. Matanya melotot lebar. Nafas nya berpacu keras dengan degub jantung yang menggedor gedor dadanya. Pundaknya bergerak naik turun seiring dengan pergerakan nafasnya. Kedua telapak tangannya mencengkeram sprei yang bermotif garis garis biru sangat erat hingga urat urat di pergelangan tangannya nampak seperti menonjol keluar menembus kulitnya. Sejenak ia memejamkan matanya kembali. Ia mencoba menenangkan syaraf yang dipaksa menegang oleh kekuatan yang tak kasat mata.lalu ia menggeleng gelengkan kepalanya cepat.

 

Setelah ia merasa syarafnya telah kendor kembali, Riham membuka kembali matanya perlahan. Dilihatnya sekeliling suasana kamar tempat ia beristirahat. Tetap saja sepi, tak terdengar apapun kecuali suara jangkrik dan suara samar garengpung (sejenis serangga) di kejauhan. Tak nampak sosok misterius yang mengunjungi kamarnya. Jendela kamarnya juga masih tertutup rapat seperti saat dia akan tidur tadi malam.

 

“ ternyata aku bermimpi…” gumam Riham sendiri

“ mimpi macam apa itu tadi…bagaimana aku bisa diteror mimpi seperti ini…”

“ bisa gila aku kalau begini terus….”

 

Riham termenung di tempat ia duduk. Lama sekali. Nafasnya yang cepat tadi telah kembali teratur seperti semula. Disentuh dadanya dengan telapak tangan kanan, masih berdentam keras juga jantungnya. Kembali ia menggeleng gelengkan kepalanya. Selang beberapa detik, dari sebuah surau kecil terdengarlah lantunan orang mengaji. Riham sedikit tersentak, otomatis ia memalingkan wajahnya ke sebuah weker kecil yang terletak di atas meja belajar di ujung ruangan. Pukul empat lebih sepuluh menit. Sudah menjelang fajar. Jikalau dalam kondisi yang biasa, Riham tentu sudah membuka jendela kamarnya untuk menghirup udara pagi,  bergegas menuju bilik mandi dan bersuci.

 

Namun, hal itu tak bakal dia kerjakan saat ini. Untuk mengambil air wudzu di kamar mandi yang terletak di luar bangunan utama itu saja sudah enggan sekali ia lakukan. Jiwanya masih belum stabil benar. Masih terbayang di benaknya mimpi mengerikan yang baru saja ia alami tadi. Sungguh sangat menyita kondisi psikisnya saat ini. Riham pun memutuskan untuk menunggu ada pergerakan diluar kamarnya atau menunggu hari agak lebih terang. Dia pun kembali merebahkan diri beralaskan bantal kapuk yang hampir kempes. Matanya nanar menghadap kearah atap. Terkadang matanya melirik kekiri atau ke kanan, moncoba mencari cari sesuatu yang tak wajar. Namun, suasana tetap saja sepi,sunyi.

 

Hingga beberapa saat setelah kumandang suara bilal menyebutkan takbir, terdengar pula suara suara pergerakan di ruang tengah. Riham yakin pakdenya telah bangun dan akan menunaikan sholat di musholla yang terletak tak jauh dari rumah Pakde Darno. Secepatnya Riham meloncat dari tempat tidur dan segera keluar kamarnya. Benar dugaannya. Di ruang tengah, pakde sedang berjalan menuju belakang rumah untuk membasuh muka dan mengambil air wudlu. Riham tersenyum kepada pakdenya.

 

“ pagi pakde “ seloroh Riham sambil membarengi pakdenya ke kamar mandi

“ sudah bangun le? Nyenyak tidurmu? Pakde lihat kemarin kamu sibuk benar. Pasti penat tubuhme, le “

“ lumayan pakde….” Ingin rasanya Riham menceritakan apa yang ia alami. Namun mulutnya tak mampu membuka “ sekarang sudah agak sedikit segar “

“ sehabis sholat, kamu rebahkan lagi saja badanmu, nak. Istirahatlah lagi “ pakde menyarankan

nggih pakde, akan saya coba nanti “

 

Merek berdua berjalan beriringan menuju halaman belakang, tempat kamar mandi berada. Saat pakde masuk ke kamar mandi, Riham berjalan menuju sebuah kran yang menempel pada dinding kamar mandi. Sejenak ia menoleh ke kanan dan kekiri, melihat lihat sekitar. Ia masih teringat mahluk yang terbang berayun ayun pada pepohonan bambu di alam mimpinya. Walaupun ia telah sadar bahwa itu semua hanya mimpi, tak urung hatinya menjadi kecut ketika mengingat kembali dan menatap gerumbulan pohon bambu di seberang kamar mandi. Namun ia tak melihat apa apa disana. Hanya bayangan gelap pohon bambu yang tumbuh lebat.

 

Setelah selesai bersuci, Riham dengan cepat berlari kecil kembali menuju kamarnya. Dia bentangkan alas dan segera mengambil sikap. Beberapa menit kemudian,setelah selesai menghadap Tuhannya, Riham beranjak menuju pembaringan untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu mimpi buruk. Mungkin karena memang benar penat tubuh Riham, atau dia telah selesai berdoa dalam sembahyangnya, tak lama kemudian Riham kembali tertidur. Lebih pulas dari yang sebelumnya.

 

Waktu pun berjalan tak menanti kegundahan hati Riham. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Hari sudah sangat terang. Cahaya mentari sudah mendesak masuk ke kamar Riham melewati angin angin diatas daun pintu jendela. Sinarnya jatuh tepat di pelupuk mata Riham.

 

Dahi Riham pun mengernyit. Cahaya itu menusuk nusuk kelopak mata Riham hingga ke dalam rongga matanya. Dengan terpaksa Riham pun bangun dari pembaringannya. Sejenak ia meregangkan badannya yang sedikit kaku. Sebentar ia menggeleng gelengkan kepala yang terasa sedikit pusing, lalu berdiri mengambil perlengkapan mandinya. Ia pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk mengguyur badannya yang terasa sedikit gerah.

 

Riham berjalan ke luar rumah setelah sedikit berbenah. Ia kelihatan lebih segar dan tampan. Rambutnya yang panjang diikat kebelakang menyerupai ekor kuda membuat wajahnya yang lonjong tirus nampak lebih bercahaya.

Riham melihat pakdenya sudah ada di teras rumah, duduk di bale bale yang ada di teras itu. Disamping pakdenya ada secangir kopi dan beberapa buah jajan pasar yang diletakkan di lepek (piring kecil). Melihat hal itu, Riham merasa berdosa. Seharusnya dia bangun lebih pagi untuk menyiapkan hidangan buat pakdenya, karena ia yakin kalau pakdenya membuat kopi sendiri pagi itu.

 

“ sini le, santai dulu disini. Ini ada jajan, pakde beli di warung Mbah Darmi tadi “ pakde memanggil Riham saat Riham baru saja keluar dari pintu utama.

“ iya pakde. Pakde mbuat kopi sendiri? “ tanya Riham

“ iya nak. Pakde harus terbiasa dengan keadaan seperti ini “ jawab pakdenya

“ oo..sebentar pakde, mau ke dapur dulu. Kok saya jadi kepingin kopi juga “

yo wes…pakde tunggu disini “

 

Riham pun beranjak menuju dapur untuk mengaduk beberapa sendok kopi yang dicampur dengan secangkir air masak. Lalu ia kembali menuju teras. Riham lalu mengambil tempat di sebelah Pakde Darno sembari meletakkan kopinya di antara mereka.

 

piye le? Sudah mau berangkat ke makam? “ tanya pakde setelah Riham meneguk sedikit kopinya

“ nanti saja dulu, nunggu Mas Tono. Sudah saya telpon dia, pakde. Masih di koperasi, beli pupuk “

“ ya sudah, kamu nikmati dulu kopimu. Biar segar badanmu le. Ada rencana apa setelah nyekar budemu? “

“ kalau ada yang harus dibeli buat tahlil malam nanti,  saya yang ke pasar buat belanja “

“ kok sepertinya ndak ada yang harus dibeli. Semuanya masih banyak kok. Cukup buat hari ini sama besok. Kamu coba jalan jalan saja, ham. Sekalian ke tempat pak lurah buat laporan sama memperkenalkan diri “

“ kalau memang ndak ada yang dibutuhkan lagi, siang nanti saya ke tempat pak lurah, pakde. Setelah itu mau ikut mempesiapkan buat tahlil nanti malam “

“ iya. Jangan lupa istirahat lho, ham. Jaga kesehatanmu “

“ pokoknya pakde ndak usah ikut sibuk. Biar saya saja yang ngurusi sampe semuanya selesai “

“ hahaha…” Pakde Darno tertawa kecil “ ya sudah, aku pasrahkan sama kamu nanti “

 

Sejenak kemudian, seseorang masuk ke halaman melewati pintu pagar pendek yang membatasi halaman dengan jalan desa.

 

“ he…mas Ton, mari masuk sini “ panggil Riham

“ Ayo Ton, jajane iki “ sahut Pakde Darno

inggih Lik Dar. Gimana dik, berangkat sekarang? “ tanya Tono

“ sebentar mas “ kata Riham sambil berdiri “ aku buatkan kopi dulu “

“ ndak usah repot repot dik “ jawab Tono

“ ndak apa apa mas, ndak kesusu kok. Apa mas Ton ada pekerjaan?” Riham bertanya pada Tono

“ ah, ndak. Sudah dari sawah tadi pagi “

“ kalau begitu santai saja mas, tak bikinkan kopi bentar “

 

Lalu Riham beranjak menuju dapur lagi untuk membuatkan secangkir kopi buat Tono. Sementara Tono nampak berbincang bincang dengan Pakde Darno. Serius sekali. Nampak wajah Pakde Darno yang kadang tertekuk, kadang mendesah. Sedangkan Tono seperti menerangkan sesuatu dengan mendetail. Pembicaraan mereka berhenti tiba tiba setelah mendengar langkah kaki Riham mendekat sebelum melewati pintu utama. Riham tak menyadari perubahan raut muka mereka.

 

“ ini mas, diminum dulu kopinya “ sahut Riham setelah meletakkan baki di bale bale

“ ya dik, terima kasih “ jawab Tono yang sejenak kemudian meneguk kopi yang dihidangkan Riham

“ ayo jajane Ton “

inggih lik, habis ke makam rencananya mau kemana dik? “

“ sebetulnya mau ke tempat pak lurah, mas. tapi lihat nanti saja “ jawab Riham

“ bisa nanti tak antar ke sana “

“ lihat nanti saja, mas. ndak enak ngerepoti Mas Ton terus “

“ sama saudara kok gitu dik. Hahaha…ndak papa selama aku ndak ada kerjaan penting “ kata Tono

“ sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak lho mas, mau saya repoti “

“ sama sama. tenang saja dik, ndak apa apa “

 

 

 

Iklan

1 Komentar »

  1. selot grendel, surau, suara bilal?

    Komentar oleh dkutabali — Januari 16, 2009 @ 2:52 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: