Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

Desember 15, 2008

Petaka Lereng Lawu – BAB XV

Filed under: Horor,Novel,Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 1:50 am
Tags: , , , , , , , ,

`

 

BAB XV

Seorang laki laki yang berumur sekitar lima puluh tahunan tampak berjalan cepat melewati regol rumah besar di ujung pertigaan jalan makadam. Perawakannya sedang. Tidak telalu tinggi ataupun pendek. Pakaian rapi yang dikenakan menandakan bahwa ia adalah seorang pegawai pemerintahan, minimal perangkat desa. Baju safari yang ia kenakan tak bisa menyembunyikan perut tambunnya yang kelihatan bergerak gerak saat ia berjalan dengan tergesa. Wajah yang terlihat sudah menunjukkan banyak guratan guratan usia itu nampak tegang menghadap lurus kedepan. Nampaknya ia sedang dalam urusan yang menyita seluruh perhatiannya.

Saat itu didalam rumah besar, Djojobroto seperti biasa sedang duduk di sebuah kursi santai di pinggir kolam renang menghadap Supeni yang juga seperti biasa melaporkan pekerjaan hariannya. Nampaknya hari ini bukanlah hari keberuntungan bagi Supeni. Terlihat ia sedang tertunduk menghadap juragannya yang sedang memasang muka yang masam sekali.

” terus rencanamu bagaimana ngatasi masalah yang di sebelah barat? ” tanya Djojo pada Peni

” Anu pak…sebetulnya kemarin sudah disemprot obat, tapi sampai hari ini masih saja…” jawab Peni

” Saya ndak mau tahu itu, ni. Yang penting jangan sampai merembet ke semua bagian ” potong Djojobroto tegas. Nada bicaranya menjadi agak tinggi.

”..ee..ii..iya..pak. Sekarang juga masih dicoba sama anak anak mengatasinya dengan…” Peni agak keder menghadapi sang juragan

” Jangan Cuma mencoba coba! ” tiba tiba Djojobroto menghardik ” Aku ndak bisa toleransi sama kegagalan! ”

” ..i.i..iya..pak..saya mengerti ” Kepala Supeni semakin menunduk mendengar hardikan dari sang juragan.

Tidak lama kemudian, seseorang nampak berjalan tergesa gesa mendatangi mereka berdua. Setelah mendengar salam dari orang yang baru datang tersebut, kepala keduanya sontak menengadah hampir bersamaan. Djojo menjawab salam dari orang yang baru datang itu nyaris dengan tanpa ekspresi, sedangkan Peni kembali menundukkan kepalanya. Matanya tetap menghadap kedua telapak tangan yang memainkan kedua jempol jarinya secara terus menerus. Walaupun dengan kondisi dan situasi yang sangat tidak mengenakkan itu, diam diam Peni merasa berterima kasih atas kedatangan tamu tersebut. Secara tidak langsung, kedatangannya membantu Peni untuk segera ’melarikan diri’ dari juragannya. Paling tidak itu harapan Peni untuk saat ini.

” Pagi Kang Djojo, ” seru tamu itu ketika posisinya sudah mendekat kepada mereka berdua.

” Pagi, ” jawab Djojo acuh. Hanya sebentar Djojo menengok kepada orang yang baru datang itu. Lalu matanya kembali menghadap ke laporan yang diberikan Peni.

” Kang, ada apa Kang Djojo manggil saya? ”

ngko sik ( nanti dulu). Kamu cari tempat duduk, bawa kesini, ” tandas Djojo

” Lho, Ni. Piye? ” tanya tamu tersebut ketika pandangannya terhenti kepada sosok Peni yang menunduk.

” Ya Ki Lurah. Baik, ” jawab Peni sambil menenggadah menghadap kepada yang menyapanya.

Setelah menjawab, kembali pandangan mata Peni tertunduk. Sedangkan sang tamu yang ternyata Lurah dari Desa Njamus menuju kumpulan meja bundar dan kursi santai di seberang untuk mengambil salah satu dari kursinya. Nampak Djojobroto berbicara kepada Peni dengan sedikit intonasi tinggi, tak terkadang dengan hardikan. Kepala Peni semakin rendah hingga dikejauhan nampak janggut Peni seperti melekat pada dadanya. Sebentar diam, sebentar mengangguk kecil sambil mulutnya monyong mengiyakan perintah juragannya yang sedang naik pitam itu. Ki Lurah tersenyum kecil melihat kejadian itu dikejauhan dan ia sedikit menggelengkan kepalanya. Ki Lurah pun kembali ke samping Djojobroto setelah mendapatkan tempat duduk.

” Ya sudah, besok kamu kembali kesini melaporkan perkembangannya, ” kata Djojo kemudian.

” Baik pak, ” jawab Peni dengan masih menundukkan kepalanya.

” Sekarang kamu balik ke kebun. Bilang sama anak anak untuk secepatnya di atasi, mengerti? Saya ada tamu ” perintah Djojo pada Peni.

” iya pak, saya ke kebun dulu. Monggo Ki Lurah, ” Peni berpamitan kepada keduanya sambil berdiri dari tempatnya duduk. Dengan sedikit tergesa Peni membalikkan badan dan secepatnya berlalu dari pandangan dua orang yang masih duduk ditempatnya itu.

piye kang. Ada apa manggil saya? ” tanya Ki Lurah kemudian.

”Ada banyak masalah yang ingin saya bicarakan, ” kata Djojo

” hmm…masalah apa to kang? ”

ngene lho Di, aku baru dapat kabar bahwa ada orang asing yang masuk desa kita dari anak anak. Apakah sudah lapor sama kamu? ”

” aku tahu kang. Memang ia belum lapor aku. Tapi kelihatannya ada yang bertanggung jawab terhadap dia ”

” kamu jangan menggampangkan lho Di. Seharusnya kamu periksa ia dari mana asalnya, ada keperluan apa tinggal disini dan sebagainya. Sebagai lurah kamu harus tanggap Di, ” ujar Djojo.

” iya kang, Aku ngerti. Tapi secara sekilas aku sudah mengenalnya walau tidak secara resmi ia melapor padaku. Memang, ia tidak punya identitas. Tapi saudaranya sudah memberitahuku saat kebetulan kami berpapasan di pasar. Bahkan ia dititpkan kepadaku soal pekerjaannya,” jawab Ki Lurah Mahmudi panjang lebar.

” Oo…jadi dia akan menetap disini, mencari kerja maksudmu? ” tanya Djojo kemudian

” Iya kang, ” jawab Mahmudi pendek

” Kamu titipkan dimana? ”

” Saya suruh kerja apa saja dipasar ”

” Hmm…memangnya, siapa yang bertanggung jawab terhadapnya? ” tanya Djojo.

” Ustadz Jamaluddin, katanya anak dari mendiang adiknya yang dari Malang ”

” Namanya? ”

” Benur, Benur Nurrochman, kata Ustadz Djamal. Umurnya baru 19 tahun, masih muda kang ”

” hmm…” Djojobroto menggumam sambil memegang janggutnya yang bersih.

” Ada apa kang? Ada sesuatu yang ndak beres? “ tanya Lurah Mahmudi

“..hmm..ndak ada apa apa. Cuma, aku mau mengingatkanmu tentang perjanjian kita, “

” Saya masih ingat dengan baik Kang Djojo. Kakang ndak usah khawatir dengan situasi desa. Semua sudah saya awasi dengan baik, Bagaimana dengan Ki….”

” Jangan bicarakan sekarang. Tunggu semua kumpul. Kita bicarakan lagi nanti, ” Djojobroto segera memotong pertanyaan Mahmudi

” Baik Kang. Kakang ndak ada keperluan lainnya? Kalau ndak…”

” Sebentar to Di. Keburu apa kamu? “ sahut Djojobroto dengan nada agak tinggi.

“ Bukan begitu Kang. Sebentar lagi aku dipanggil pak camat. Aku kan harus mempersiapkan bahan bahan buat pembicaraan nanti dengannya, “ sanggah Lurah Mahmudi.

“ Sebentar….rasanya, kau sekarang jadi seperti bukan bagian dari kita. Kau sering tidak menghadiri undangan saat kita semua berkumpul. Apa kau ingin melepaskan diri? ”

” Ah…Kang, jangan berpikiran seperti itu. Aku ndak akan melupakan jasa jasa Kakang Djojo kepadaku. Begitu pula saudara saudara yang lain, ” kembali Mahmudi menyanggah pertanyaan Djojobroto.

” Kau bisa saja berbohong dengan menyanggah segala tuduhanku. Tapi bila kau mengahdapi beliau, bisa apa kau menyangkal? Kami mungkin tak tahu keadaanmu sekarang, tapi nanti. Nanti kau akan menghadapinya sendiri. Ingat itu, Di ” kata Djojobroto. Mahmudi terdiam sejenak. Lalu ia angkat bicara,

” Aku ndak akan berani, Kang. Demi Tuhan, aku ndak berani ”

” Berani benar kau menyebut nama Tuhan disini, jangan kau sebut sebut lagi nama itu ” Djojobroto menghardik keras kepada Lurah Mahmudi.

” I..iya, Kang. Pokoknya aku ingat perjanjian kita, aku tak akan ingkar, ”

” Baik. Aku hanya mencoba menyelamatkanmu dan keluargamu. Toh yang akan marah bukan aku, tapi beliau, ” kata Djojobroto mengingatkan ” Kau sudah menikmati hasilnya, Di. Kini tinggal kesetiaanmu saja, ”

” Iya Kang. Aku akan ingat selalu. Aku yakin begitu pula saudara saudara yang lain, ” jawab Mahmudi dengan mantap.

” Jangan lagi kau menghindar saat kami membutuhkan bantuanmu, Di. Jangan pernah lagi ”

” Iya Kang. Aku usahakan sekuat tenagaku, ” jawab Mahmudi.

” Baiklah, kau boleh pergi sekarang. Maaf, aku sampai lupa memberitahu pelayan membuatkan hidangan untukmu, ” Kata Djojobroto kemudian.

”  Ndak apa apa Kang, ndak usah repot repot. Aku juga sedang kesusu (terburu), “

“ Kalau ada apa apa, cepat kemari setelah suruhanku mengantar undangan dan bila kau sudah menerimanya, “

“ Baik Kang. Kalau ndak ada apa apa lagi, aku mau pamit dulu. Masih banyak yang harus ku kerjakan hari ini, “ kata Mahmudi. Ingin sekali ia segera pergi dari tempat ini dan meneruskan pekerjaan harian yang terpaksa ia tinggalkan setelah seseorang memberitahunya bahwa Ki Djojobroto memanggilnya.

” Baik, pergilah. Aku ndak mengantar, ” Jawab Djojo acuh.

” Aku pamit dulu Kang,” Mahmudi pamit dan bediri dari kursinya.

 

Ia bergerak untuk mengangkat kursi yang ia ambil untuk dikembalikan ke tempatnya semula. Djojo melarang Mahmudi menggangkat kursi itu dan dikatakan bahwa pesuruhnya saja yang nanti membereskan tempat itu selujruhnya. Lalu Djojo mempersilahkan Mahmudi keluar dari halaman belakang untuk segera kembali ke meja tugasnya di Kelurahan.

Beberapa langkah dari regol rumah Djojobroto, langkah Lurah Mahmudi terhenti. Seperti memikirkan sesuatu, wajah Lurah Mahmudi tertekuk kedalam. Kerutan wajah di dahi Mahmudi semakin menonjol. Sejenak ia menghembuskan nafas dalam dan menoleh kembali ke rumah Djojobroto.

 

” Kapan aku bisa terlepas dari situasi ini…” ia menggumam sendiri.

 

Lalu ia kembali menghadap kearah langkah kakinya berjalan dan beranjak pergi dari tempat itu.

 

” Aku sudah mengerti semua kebusukanmu Kang. Aku berharap Tuhan mau menolongku dan sekaligus menyadarkamu….tapi, kapan? ”

 

Sambil berjalan ia menggumam sendiri demi keselamatan jiwanya yang ia yakin kapan saja nyawanya  bisa amat terancam.

Iklan

5 Komentar

  1. Ceritanya bagus, nda ngebosen in en buat penasaran.
    jd kapan lanjutannya??

    thx

    Komentar oleh eve — Januari 8, 2009 @ 1:23 am

    • makasih ya
      aku lagi proses ngelanjutin
      insya allah akan terus sampai tamat
      ——————–
      minta tulung kalo ada emen yang suka baca
      mohon di sebarkan pada mereka
      thanks sekali lagi

      Komentar oleh harlockwords — Januari 8, 2009 @ 1:27 am

  2. Hm…bab XIII merinding aku dibuatnya…XIV&XV turun lagi nafasku…cerita ini bagus….

    Komentar oleh dkutabali — Januari 16, 2009 @ 3:10 am

  3. bagus banget kang,,, terusin yah,,, truz bagian satunya mana dunk??? vee kan penasaran

    Komentar oleh gendut1mu3t — Februari 4, 2009 @ 7:23 am

    • hehehe
      di belakang-belakang vee
      cari aja,
      sori buat semua
      akhir akhir ini sibuk banget
      awal tahun, kerjaan numpuk…

      Komentar oleh harlockwords — Februari 9, 2009 @ 12:49 pm


RSS feed for comments on this post.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: