Harlockwords’s Blog – …Story came Out From My Mind…….

Desember 18, 2008

Jalan Setapak LALI JIWO – Bag 2

Filed under: Horor,Novelette — harlockwords @ 2:37 am
Tags: , , ,

.

JALAN SETAPAK LALIJIWO

Surabaya, 15 Desember 2008 – Harlock 

“…tak akan kubiarkan pergi, bahkan sedikit lelap. Semua ada digenggamanku…”

 

Bagian 2

Arthur terlihat berjalan tergopoh gopoh mengejar waktu agar cepat sampai di Hutan Cemoro Sewu yang masih mungkin untuk dijadikan tempat peristirahatan, bukan di Alas Lali Jiwo yang menakutkan ini. Perutnya menjadi sangat mulas bila mengingat hal itu. Rasa takut dan khawatir benar benar menjajahnya kali ini. Ia yang tak pernah takut apapun, kini benar benar dipaksa tunduk kepada rasa itu.

 

Namun, semakin jauh ia berjalan, ia tak juga menemui hutan yang bernama Cemoro Sewuu. Hanya jalan setapak ituitu saja yang ia lihat. Panik semakin menjalar di pembuluh darahnya. Peluh bercampur keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Bajunya semakin basah. Namun ia tak hendak berhenti walau sejenak. Semakin pula ia mempercepat langkahnya.

 

Tibatiba sesuatu hal membuat darahnya mengalir deras hingga kepala. Arthur melihat pokok akar berukuran raksasa yang ia duduki di awal perjalanan saat ia mengetahui bahwa ia sedang sendiri di hutan ini.

 

“ Ya Tuhan…itu..itu akar yang tadi..” Arthur ternganga. Ia melihat bekas tapak kaki dan cetakan pantatnya di pokok akar yang lembab.

“ A..apa ini…? Mana mungkin…? “

“ tiga jam….nggak mungkin…”

 

Arthur jatuh terduduk di lantai hutan yang lembab. Sontak kekuatannya hilang sama sekali. Matahari sudah hilang dan suasana menjadi gelap gulita. Dada Arthur bertambah sesak. Ia yakin ada sesuatu dibalik peristiwa ini. Padahal sudah sekitar tiga jam ia berjalan dan selalu mengikuti jalur jalan setapak yang menurutnya tak menemui percabangan.

 

Ia mulai ingat peringatan temantemannya. Ia merasa sangat menyesal telah sumbar dipintu hutan. Namun sesal pun tak menolongnya untuk keluar dari hutan yang mengerikan ini. Perlahan Arthur mengambil dan menyalakan lampu ting yang ia gantungkan di pipa tas ranselnya. Walau tak begitu terang, cukup buat Arthur untuk melihat sekitar dalam radius satu meter setengah. Ia tolehkan kepalanya ke sekeliling sembari mengangkat lampu tingnya tinggi. Sayupsayup terdengar gemeretak pepohonan yang entah ditiup angin atau bergesekar dengan hewan liar yang melewatinya. Kecut hati Arthur dibuatnya. “ Tempat ini berbahaya…., ” batinnya bicara.

 

Ia pun berkeputusan untuk kembali berjalan setelah meneguk air yang tinggal seberapa dan mengunyah roti bantet yang ia bawa sebagai bekal. Ia packing kembali isi tas ranselnya, lalu ia berdiri dan mulai berjalan sambil membawa lampu yang sinarnya bergoyanggoyang lembut. Kaki yang sedari tadi berjalan sudah mulai melepuh. Walau tenaganya sudah mulai pulih, tak membuat jalannya menjadi tegap. Dengan sedikit terseret, kakinya tetap menyusuri jalan setapak. Kali ini ia perhatikan andai ia melewati sebuah percabangan. Ia tak ingin kembali lagi di “pos” tempat ia beristirahat tadi sore.

 

Lampu ting yang ia tenteng ke depan ia arahkan rendah menerangi jalan setapak itu. Matanya tak lepas dari lantai hutan. Perlahan tapi pasti Arthur menggeser telapak kakinya langkah demi langkah. Hingga saat ini ia begitu yakin bahwa ia tidak menemukan adanya percabangan jalan. Ia tetapkan langkahnya kedepan berharap beberapa menit kemudian ia akan menemukan sederetan pohon cemara yang berada di bagian Alas Cemoro Sewu.

 

Tiba tiba suara tonggeret yang berpesta pora di malam itu berhenti. Suasana jadi hening sekali. Yang terdengar hanya suara langkah Arthur yang terseret seret menggesek lantai hutan. Arthur yang berusaha menahan capai dan kantuknya, tidak merasakan perubahan itu. ia tetap saja berkonsentrasi pada jalan setapak yang dilewatinya.

 

Beberapa lama kemudian, dari samping kiri Arthur terdengar suara menggesek keras. Saking terkejutnya, konsentrasi Arthur buyar seketika. Mendadak ia menghentikan jalannya. Lampu ting yang ditentengnya diangkat setinggi mukanya ke arah kiri. Lengannya bergerak kekiri dan kekanan mencaricari asal suara aneh tersebut. ia tidak melihat apa apa. Semuanya terlihat gelap. Yang terlihat hanya pergerakan bayangan pohon oleh lampu ting Arthur. Selebihnya hanya kelam. Arthur keheranan. Ia berfikir, mungkin hanya halusinasi saja. Padahal suara malam sedikitpun tak terdengar saat itu, dan Arthur tetap tak menyadarinya.

 

Setelah yakin tak melihat apapun, Arthur kembali menyeret langkah kakinya.Belum sampai seratus langkah, suara gesekan itu kembali terdengar. Kini suara itu datang dari arah kanan. Lebih dekat dan lebih keras dari yang pertama. Kembali Arthur terkejut dan menolehkan seluruh badannya ke arah datangnya suara. Lampu tingnya digerakkan sedikit cepat. Tetap saja hanya hitam kelam yang ia temui, tidak nampak sesuatu apapun. Bahkan diatas pohonpohon rimbun itu pun tak nampak sesuatu yang menarik perhatiannya. Agak lama Arthur terdiam melihat ke arah itu. Jantungnya berdetak kencang.

 

“ Hoi…siapa disitu? Ada orang kah? “ teriak Arthur pada kegelapan malam dan pepohonan

 

Namun teriakannya hanya dijawab oleh desahan malam yang menerpa pepohonan. Tak ada suara lain. Tetap saja hening seperti tadi. Dahi Arthur mengernyit sebelum memutuskan untuk berjalan kembali. Ia pun kembali menyeret langkah kakinya. Setelah beberapa ratus langkah, Arthur mendengar suara seperti desahan nafas di balik pepohonan yang diselimuti gelapnya malam. Ia menajamkan pendengaran untuk memastikan suara yang ia dengar. Arthur mendengar suara dengusan nafas yang berat, dan ia pastikan bahwa suara itu bukan berasal dari suara nafas manusia. Ia juga mendengar bahwa suara seretan langkah kaki bukan hanya berasal dari langkah kakinya sendiri. Ada suara seretan langkah kaki lain di balik rerimbunan pohon di sebelah kanan tubuhnya, namun suara itu lebih berat dan lebih keras.

 

Arthur yakin bahwa ada sesuatu yang sedang mengincar dirinya. Mengetahui hal itu, Arthur mempercepat langkah kakinya. Ia tak peduli bahwa kakinya telah pegal dan lecet. Ia tetap saja menggenjot langkahnya menjauh dari area itu. Namun, semakin cepat ia melangkah, suara dengusan nafas dan langkah yang berat itu tetap mengikuti seiring dengan lari Arthur. Jarak Arthur dengan suara itu pun tidak bertambah jauh maupun bertambah dekat.

 

Arthur menjadi semakin panik. Akhirnya ia berkeputusan untuk menghadapi. Ia hentikan langkah dengan tiba tiba. Dan dengan cepat pula ia membalikkan badan menghadap ke arah yang ia yakini dimana suara aneh itu berasal. Cepat cepat ia acungkan lampu tingnya ke depan, agak lebih tinggi dari dagu. Ia menunggu mahluk yang mengikutinya untuk mendekat. Ia hanya takut bila mahluk itu adalah harimau yang sedang mencari camilan buat perutnya yang sedikit masuk angin.

 

Namun, setelah ia berhenti tiba tiba, suara yang mengikutinya tadi mendadak lenyap. Ia tak mendengar apapun, sepi. Bahkan sesuatu yang mendekat pun tidak ada. Tidak ada pergerakan apapun di baik kerimbunan pohon. Kembali dahinya mengernyit.

 

“ Apaapaan ini? Kemana suara tadi? “ Arthur membatin. Ia tetap menunggu sesuatu itu menyergapnya. Ia sudah pasrah apabila ada hewan buas yang menyerang. Paling tidak ia akan mempertahankan hidup dahulu sebelum nyawanya disambar mahluk itu.

 

Namun semuanya tak terjadi. Hanya ia sendiri yang berdiri disitu. Tanpa pikir panjang lagi, ia melanjutkan perjalanan. Benaknya mengatakan bahwa semua itu hanyalah ilusi saja. Ia merasa bahwa lemah kondisi lah yang membuat ia jadi berfikir yang tidak nyata. Ia tetap melangkahkan kaki di kegelapan malam.

 

Arthur melirik jam tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 21.45 menit. Berarti ia sudah berjalan selama lebih lima jam sejak ia sadar bahwa dirinya tersesat. Waktu yang cukup lama untuk membuat kakinya bengkak dan melepuh.

 

Beberapa menit kemudian ia melihat sesuatu hal yang membuat dirinya hampir pingsan. Badannya serasa tak bertulang lagi. Ia menggelosor kebawah dan duduk bersimpuh berlantaikan tanah lembab. Ia melihat pokok akar dimana ia tadi duduk memulai perjalannya. Bahkan ia melihat sebatang korek api bekas yang ia pakai untuk menyalakan lampu ting sesaat sebelum malam menjelang tadi.

 

“ Ya Tuhanku Yang Maha Agung….” ujar Arthur sambil menundukkan kepala.

“ Apa yang terjadi dengan ku, Ya Tuhan…”

 

Tetesan air mata mulai membasahi pipi Arthur. Telapak tangan menutupi seluruh wajahnya yang basah oleh keringat. Ia merasa tak sanggup lagi untuk berdiri, apalagi berjalan. Dengan merangkak ia mendekati pokok akar itu. Ia duduk di tanah dan bersandar pada sela sela akar yang berukuran raksasa.

 

“ Aku tak sanggup lagi berjalan. Kakiku sudah bengkak dan lecet…biarlah aku tidur disini saja…” batin Arthur bicara.

 

Arthur mengeluarkan sisa bekal yang ia bawa lalu memakannya sedikit. Ia dorong makanan yang tak seberapa itu dengan air seteguk. Sedikit harapan baginya bahwa besok pagi bila fisik dan psikisnya sudah pulih, ia pasti akan menemukan jalan yang sebenarnya. Ia tak berpikir untuk malam ini. Sama sekali. Yang ia inginkan adalah tidur. Dengan atau tanpa tenda.

 

Arthur menyandarkan kepala di batang pohon raksasa menghadap kearah jalan setapak. Arthur heran. Malam ini bahkan angin pun tak bergerak sama sekali. Tak ada suara serangga malam, tak ada suara gemerisik daun. Benarbenar sepi. Ia menengadahkan kepala. Bahkan ia tak melihat bintang ataupun mendung. Sesuatu hal yang janggal bila kita berada di lereng sebuah gunung. Arthur mulai merasa bahwa ia sedang dalam situasi yang tidak biasa.

 

 

 

 

 

 

.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: